Di Jodohkan eps 63
Empat hari telah berlalu, dan tinggal satu hari lagi Mala dan teman-temannya akan mengikuti ujian sebelum lulus SMA. Sepulang sekolah, Devi tidak langsung pulang; ia berencana menginap di rumah Mala. Oleh karena itu, ia ikut mobil Mala saat ini.
"La, muka lo pucet banget. Lo sakit?" tanya Devi.
Mala menggeleng. "Gua nggak apa-apa, Dev, tapi gue nggak tahu kenapa akhir-akhir ini sering pusing dan mual."
"Mual?" tanya Devi lagi, mendapatkan anggukan dari Mala.
"Wah, serius, La?"
"Iya, kenapa sih lo aneh banget deh," gumam Mala.
"Berhenti di depan, La," ujar Devi.
"Apotik? Ngapain lo mau ke apotik? Sakit?" tanya Mala, tetapi tidak dihiraukan oleh Devi.
Setelah beberapa menit, Devi keluar dari apotik dan kembali masuk ke dalam mobil Mala. "Ayo pulang," ujarnya, dan Mala pun hanya menurut.
Setelah sampai di rumah, Mala terkejut karena tanpa ada angin dan hujan, Devi tiba-tiba menyodorkan sebuah tespe.
"Jangan banyak tanya, mending lu buruan ke kamar mandi buat cobain. Semoga hasilnya sesuai harapan gua," ujar Devi.
"Ih, ogah ah! Lu ada-ada aja. Gue nggak hamil, udah ah, mending gue video call sama suami gue," kata Mala.
Hap!
Pergelangan tangan Mala dipegang Devi. "Periksa dulu," tuturnya.
"Ck! Pemaksaan banget sih."
Dengan terpaksa, Mala menuruti keinginan sahabatnya itu. Selama satu jam, Devi mondar-mandir tak karuan menunggu Mala di kamar mandi.
"Mala, udah belom sih?" pekiknya.
"Bentar, sabar dong!" jawab Mala.
Ceklek!
"Gimana hasilnya, La? Positifkan? Iyakan, La? Lo hamilkan?" tanya Devi bertubi-tubi.
"Ck! Bawel lo! Mau tahu nggak hasilnya?" tanya Mala.
Devi terdiam sejenak, kemudian bertanya, "Hasilnya?"
Mala menggelengkan kepalanya dengan raut wajah sedih. Melihat itu, Devi pun menerbitkan wajah kekecewaan dan kesedihan. "Maaf ya, La!" lirihnya.
"Maaf? Untuk apa?" tanya Mala.
"Maaf buat lo berharap, tapi setelah tahu hasilnya lo sedih. Maaf ya, sekali lagi maaf," lirih Devi dengan raut wajah ditekuk, menyesal karena membuat sahabatnya sedih.
Mala yang mendengar penuturan sahabatnya itu pun tertawa terbahak-bahak. Devi mengerutkan kening, tak mengerti. "Lo kenapa kok ketawa, La?" tanya Devi heran.
"Hahaha, ya gimana nggak ketawa, lo lucu banget, sumpah!" ujar Mala sambil tertawa.
"Yaelah, lo. Gue serius merasa bersalah. Coba tadi gue turutin kata lo. Kalau lo nggak hamil, nggak perlu tespek, segala, pasti lo nggak sedih," tutup Devi.
"Siapa yang sedih?" tanya Mala.
Devi menatap Mala yang sedang tersenyum. "Lo nggak sedih, La?"
Mala menggelengkan kepalanya dan menyodorkan hasil tespek. "Ini serius?" tanya Devi saat melihat hasilnya.
Mala mengangguk. "Yey! Nanti anak gue punya teman berantem, La!" pekik Devi sambil melompat-lompat.
"Perasaan gue yang hamil, dia yang bahagianya," gumam Mala, kemudian ikut loncat-loncat juga.
Devi tiba-tiba teringat sesuatu. "La, jangan loncat-loncat!" tuturnya.
"Kenapa?"
"Kehamilan kita ini masih muda, jadi rentan keguguran—"
"Jangan diterusin, gue paham," potong Mala. Ia tak mau mendengar kata itu, takutnya jadi sebuah doa, pikirnya.
"Gimana perasaan lo?" tanya Devi.
Mala mengerutkan jidatnya. "Perasaan gimana?"
"Lah, waktu itu kan kalian pernah tanya rasanya hamil gimana? Nah, sekarang lo ngerasain, jadi gimana?"
"Yah, gitu, nggak bisa dideskripsikan. Tapi serius, setelah tahu hasilnya, gue merasa berbeda, Dev."
"Oh iya, Dev, temenin gue ke rumah sakit, ya!" ujar Mala.
"Buat?"
"Maksain aja, beneran atau enggak, gue hamil. Takutnya cuman kesalahan aja," jawab Mala. Devi pun mengangguk.
Setelah memeriksa ke dokter, Mala dan Devi sangat bahagia karena hasilnya memang menunjukkan bahwa Mala hamil, dan kehamilannya memasuki minggu kedua. Senyuman tak pudar sejak mereka keluar dari rumah sakit hingga saat ini, sudah berada di rumahnya.
"Cie, bumil!" ujar Devi.
"Gue bahagia banget, Dev! Nggak sabar buat kasih tahu Rakha!" ujar Mala.
"Oh iya, ngomong-ngomong, lo belum kasih tahu ortu lo sama mertua lo, terus sahabat-sahabat kita?" tanya Devi.
Mala menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Devi.
"Gue mau kasih tahu Rakha dulu, baru yang lain!" tutur Mala.
"Lah, kan gue udah tahu, La?"
"Ck! Beda, lo emang ada di sini, jadi gue harap lo nggak lemes," tegas Mala.
"Hehe, iya aman," jawab Devi sambil cengengesan.
Driittttt...
"HP lo bunyi, La!" pekik Devi, karena Mala lagi di kamar mandi.
"Siapa?" pekik Mala juga.
"RAKHA!"
Ceklek!
"Caelah, giliran Rakha aja cepet keluarnya," sindir Devi.
"Iya, La, suami gue," jawab Mala sebelum berlalu.
"Hallo, Seng!" sapa Mala saat sudah menggeser pola berwarna hijau itu.
"Hallo juga, sayang! Kamu kenapa senyum-senyum?" tanya Rakha di seberang sana.
"Aku bahagia banget, Kha... Kita..." Rakha mengerutkan keningnya saat Mala menghentikan ucapannya.
"Kita? Apa, sayang?" tanya Rakha.
"Nanti aja pas kamu pulang, aku ada kejutan buat kamu!" ujar Mala sambil tersenyum.
"Yah, nggak bisa sekarang nih?" tanya Rakha.
Mala menggelengkan kepalanya. "Nggak boleh, harus ada kamu di samping aku," tuturnya.
"Yah, aku penasaran banget nih," ujar Rakha.
"Kapan?" tanya Mala.
"Kapan apanya?"
"Pulang?"
"Besok," ujar Rakha, mampu menerbitkan senyuman di bibir sang istri.
"Pagi atau sore, Kha?" tanya Mala.
"Keknya pagi deh, mau buru-buru lihat kejutan dari kamu," ujar Rakha disertai kekehan.
"Sabar! Oh iya, Kha, udah dulu, ya. Aku mau masak buat teman-teman yang mau main di sini," tutur Mala, dan Rakha menganggukkan kepalanya.
Tut...
Sambungan telepon terputus.
Post a Comment for "Di Jodohkan eps 63"