Di Jodohkan eps 67
Di balkon kamar, seorang gadis termenung, menatap langit malam yang indah dengan bintang-bintang berkerlap-kerlip di langit biru. Angin sepoi-sepoi menerpa permukaan kulitnya, namun si gadis tak kunjung pergi dari tempat itu. Ia memejamkan matanya, menikmati angin malam yang membawa ketenangan. Perlahan, air mata jatuh dari sudut mata Mala, membasahi pipinya.
"Gue gak sanggup, Kha!" lirihnya.
Ceklek!
"Mala... Sayang, kamu dimana?" pekik Lina, mamanya.
Mala membuka matanya mendengar teriakan sang mama. "Balkon, Ma!" ujarnya.
"Astaga, Mala! Ini udah jam 9 malam, ngapain kamu di sini? Dingin gak baik buat kesehatan bayi dalam kandungan kamu," ujar Lina, namun tak mendapatkan jawaban dari sang anak.
Lina menarik tubuh anaknya menghadap dirinya, terkejut melihat mata Mala yang sudah sembab. "Kamu nangis lagi, sayang?" tanya Lina.
"Mala gak sanggup, Ma. Mala gak kuat," lirihnya.
Lina menggelengkan kepalanya. "Kamu kuat, kamu bisa. Anak Mama pasti bisa," ujarnya, menarik tubuh putrinya ke dalam dekapan.
"Kenapa harus Mala, Ma? Mala gak kuat harus kehilangan Rakha. Mala gak bisa jalani hari-hari tanpa dia di samping Mala. Ini benar-benar sulit buat Mala. Hiks..." tangis Mala pecah dalam dekapan sang mama.
Mulut Lina benar-benar tak mampu mengucapkan sepatah kata apapun. Ia terus mengusap punggung anaknya itu, diiringi butiran air bening yang mengalir dari pelopak matanya.
Lina menyeka air mata yang membasahi pipi anaknya. "Allah SWT kasih ujian kamu seperti ini berarti Allah yakin kamu bisa melewati semua ini, sayang," tutur Lina.
"Dan Mama juga yakin anak Mama yang pemberani ini pasti bisa melewati ini semua. Mama harap kamu bertahan ya demi anak kamu kelak. Jangan siksa diri kamu sendiri dengan mengurung diri di kamar. Teman-teman kamu dan kami rindu Mala yang dulu, Mala yang selalu ceria!"
Yah, sejak lima bulan yang lalu, Mala mengurung diri di kamar. Ia hanya keluar saat waktunya cek up. Bahkan, Devi dan yang lain pun hanya bisa menemuinya saat ia keluar untuk cek up, dan setelah itu mereka menunggu satu bulan berikutnya. Rindu. Mereka benar-benar merindukan Mala mereka, yang selalu bisa membuat mereka tertawa dan memberikan solusi yang tepat.
"Mala gak bisa, Ma. Mala iri sama mereka yang bisa sama suami mereka. Apalagi Devi, dia beruntung. Setiap ia pengen apa, selalu Afan turutin..."
"Sttt, kamu gak boleh ngomong gitu. Mama sama Papa akan selalu turutin yang kamu pengen sebisa mungkin. Mama sama Papa akan memberikan yang terbaik buat kamu dan calon anak kamu ini," tutur Lina.
"Iya, Ma. Maaf. Makasih selalu ada di sisi Mala," gumam Mala.
"Mama sama Papa akan selalu berada di sisi kamu selama nafas kami masih ada. Mala adalah anugerah paling indah dalam hidup Mama dan Papa," ujar Lina. Mala tersenyum mendengarnya.
"Ehmm, Papa cari di mana-mana, taunya peluk-pelukan di sini," ujar Ali, papanya.
"Bilang aja Papa pengen ikut, kan?" goda Mala.
Ali mengembangkan senyumnya, sudah lama ia tak melihat kejailan dan senyum putrinya itu sejak kepergian suaminya.
"Wah, hebat banget anak Papa ini udah bisa nebak maunya Papa," ujar Ali.
Mala dan mamanya terkekeh. "Sini, Pa. Gabung berpelukan," ujar Mala.
Ali pun mendekat dan ikut memeluk istri dan anaknya. Momen seperti ini sudah lama tak mereka rasakan, terutama setelah Mala berumah tangga.
"Udah malam, mending kita masuk, tidur," ujar Lina.
"Yaudah, ayo. Kamu juga, sayang. Harus jaga kesehatan biar cucu Papa nanti lahirnya sehat," tutur Ali, yang dibalas anggukan oleh sang istri.
"Yaudah, kamu istirahat. Mama sama Papa mau ke kamar," ujar Lina.
"Mama!" cegah Mala.
"Hmm, kenapa?"
"Aku pengen sesuatu!"
"Ngidam lagi?"
Mala mengangguk. "Mau apa?" bukan Lina yang bertanya, melainkan Ali.
"Hmm, pengen tidur bareng Mama sama Papa," ujarnya dengan senyuman mengembang.
"Cuman itu?" tanya Ali, dan Mala mengangguk.
"Oh, kalo itu Mama sama Papa dengan senang hati tidur sama anak yang paling cantik dan sayang ini," ujar Lina dan Ali.
"Eleh, Mala anak paling disayangi. Karena Mala gak ada adek sama kakak, makanya paling disayangi," ujarnya, mengundang gelagat tawa kedua orang tuanya.
Post a Comment for "Di Jodohkan eps 67"