Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Di Jodohkan eps 66

 Di rumah sakit, kini Mala terbaring lemah di ranjang, merasa tak kunjung kuat setelah mendengar keputusan akhir tim SAR yang menghentikan pencarian suaminya. Kini diyakini Rakha sudah mati dimakan buaya.  


"Hiks... Mala bangun, La!" ujar Devi dengan terisak.  

"Dev, udah dong. Ingat kamu juga lagi ngandung..." ujar Haura.  

"Kasihan Mala, Hau... Hiks... Dia baru mau kasih kejutan buat Rakha..." gumam Devi dalam dekapan Haura.  


Haura merasa heran karena tak ada pergerakan atau isak tangis dari sahabatnya. Bahkan saat ini pelukannya pun melonggar.  

"DEVI!" pekik Haura saat melihat Devi tak sadarkan diri.  


"Kenapa, Devi?" tanya Anggun, mama mertuanya.  

"Gak tau, Tan. Tiba-tiba udah pingsan," jawab Haura dengan nada lirih.  

"Yaudah, baringin dia di sofa itu, dan Vio panggil dokter," tutur Anggun.  

"Iya, Tan."  


Dokter datang bersama Vio memeriksa Devi yang belum sadarkan diri. Tak lama, Afan datang dengan yang lain. Afan yang baru tiba syok melihat keadaan sang istri.  

"Ada apa ini? Kenapa Devi pingsan?" tanya Afan dengan raut wajah penuh kecemasan.  

"Tenang, pasien hanya butuh istirahat yang cukup. Kehamilannya ini masih muda," tutur sang dokter.  

"Saya saranin agar Nak Devi istirahat yang cukup, jangan banyak pikiran karena akan mengganggu ketenangannya," sambung sang dokter.  

"Baik, Dok. Terima kasih," ujar Afan.  


"Fan, mending lo bawa Devi pulang aja deh. Kasihan dia nangis terus kalo liat Mala," ujar Haura.  

"Yaudah, gua bawa Devi pulang sekarang. Tante, saya pamit ya," ujar Afan sambil menyalimi punggung tangan Anggun.  

"Guys, gua pulang ya. Jagain Mala. Kalo ada apa-apa, kabarin aja," sambung Afan.  


Hari berganti, bulan berganti. Kini, kandungan Mala sudah memasuki bulan kelima. Saat ini, ia sedang berada di fase ngidam. Biasanya, orang-orang yang ngidam dituruti oleh suaminya, namun berbeda dengan Mala. Ia harus kuat dan menerima kenyataan pahit ini, demi calon anak yang berada di rahimnya. Walaupun sebenarnya, ia sangat rapuh.  


Hari ini, Mala melakukan cek up kandungannya ditemani oleh mamanya. Namun, karena tiba-tiba ada urusan, Lina terpaksa meninggalkan sang anak dengan berat hati.  

"Mama pergi aja, Mala gak pp kok," ujar Mala.  

"Serius, Mama gak yakin tinggalin kamu sendiri, Nan—"  

"Udah, Mama. Tenang aja, Mala janji gak bakal kayak waktu itu lagi," potong Mala yang sudah tahu maksud sang mama.  

"Yaudah, kamu pulangnya hati-hati ya. Nanti tunggu aja, Mama suruh Mang Dadang jemput kamu," ujar Lina sebelum berlalu.  


Lina dengan berat hati meninggalkan sang anak. Sebenarnya, ada rasa khawatir dalam dirinya, pasalnya baru-baru ini Mala hampir saja ketabrak mobil gara-gara berjalan dengan tatapan kosong. Untung saja, saat itu suaminya cepat menyelamatkan Mala. Kalau tidak, Lina tak dapat berkata lagi apa yang akan terjadi pada anaknya.  


Mala duduk di ruang tunggu. Sungguh, pemandangan yang sangat ia benci saat ini. Ia duduk bersama ibu-ibu hamil yang ditemani suami-suami mereka, sedangkan ia hanya seorang diri. Mala berupaya menahan air matanya agar tak menetes, namun usahanya sia-sia. Air mata itu terjun bebas tanpa meminta izin.  


Tes...  

"Mala!" Mendengar namanya dipanggil, Mala dengan cepat mengusap air matanya dan menoleh ke sumber suara.  

"Devi." Ujar Mala.  

"Hai, La!" sapa Devi.  

"Hallo, lo cek up juga, Dev?" tanya Mala.  


Devi menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Lah, kalo gak cek up, lo kenapa ke rumah sakit? Lo sakit?" tanya Mala dengan raut wajah khawatir.  

"Hehe, lo tenang aja, La. Gue baik-baik aja. Gue kesini sengaja buat temenin lo cek up," ujar Devi dengan senyuman.  


Mala terharu mendengarnya. Ia benar-benar beruntung memiliki keluarga dan sahabat yang selalu siap sedia menemaninya saat down seperti ini. Tak terasa, air matanya kembali menetes.  

"Iya, lo kenapa kok nangis sih? Kata-kata gue ada yang salah, ya? Maaf ya," ujar Devi.  

Mala menggelengkan kepalanya dan memeluk sang sahabat. "Makasih, Dev. Lo sama yang lain selalu ada di sisi gue," lirihnya.

Post a Comment for "Di Jodohkan eps 66"