Di Jodohkan eps 31
Malam berganti, pagi pun tiba. Kini Mala dan kawan-kawannya sudah pindah ke rumah mertua mereka, tetapi Rakha dan Afan memutuskan untuk tinggal di rumah mereka sendiri. Mereka mendapatkan hadiah berupa satu rumah dari orang tua mereka, ditambah lagi Rakha dan Afan sudah bekerja di perusahaan ayah mereka. Berbeda dengan Zayyan dan Eby yang belum bekerja, mereka memilih tinggal di rumah orang tua. Satu bulan lagi, orang tua mereka juga akan pergi ke London.
Pagi ini, mereka akan pergi ke sekolah seperti biasa. Cukup sudah libur mereka, banyak tugas OSIS yang harus mereka tangani.
"DEVI, WOY! DEVI, BANGUN!" teriak Afan di dekat telinga Devi. Karena kaget, Devi menendang Afan.
Bugh...
"Auw, sakit, Dev!" ujar Afan sambil mengelus pantatnya yang terjatuh akibat tendangan itu.
"Ehh, ehh, sorry-sorry! Lagian lo juga sih, ngagetin!" ujar Devi kesal.
"Gue bangunin lo, tidak kayak mati saja!" ujar Afan, lalu beranjak pergi.
"CEPETAN MANDI! NANTI TELAT LAGI! GUE BUKAN KAYAK LO YANG SUKA TELAT, AWAAS SAJA SAMPE GUE TELAT GARA-GARA LO!" teriak Afan dari luar kamar.
"IYA, BAWEL BANGET SIH!" teriak Devi balas.
Di persimpangan jalan, Zayyan dan Eby sedang menunggu Afan dan Rakha, tentunya dengan istri-istri mereka. Hari ini, mereka juga akan memberitahukan kepada semua siswa-siswi bahwa mereka sudah memiliki kekasih, jadi para siswi tidak akan mengejar-ngejar mereka lagi.
"Ck!! Lama banget sih teman lo, Bai," ujar Zayyan.
"Yee, gitu-gitu, teman lo juga ya," ujar Eby.
"Enggak, gue tidak punya teman yang suka telat," ujar Zayyan lagi.
"Oh gitu, gue kasih tahu saja nanti sama Rakha dan Afan, biar lo dibejek-bejeknya tahu rasa!" ujar Eby lagi.
"STOP!" pekik Haura dan Vio bersamaan. Mereka pusing mendengar perdebatan yang tidak masuk akal ini.
Setelah beberapa menit, akhirnya Rakha dan Afan tiba berbarengan.
"Ayo, cabut! Nanti telat lagi!" ujar Rakha.
"Ehh, nanti, Kha! Lo tidak ada yang lupa?" tanya Eby. Semua menatap heran kepada Eby, apa yang ia maksud.
"Apa sih, tidak ada, semua aman. Cepet, nanti keburu bel!" ujar Rakha lagi.
"Oh iya, Mala mana, Kha?" tanya Haura.
Sontak, mendengar pertanyaan dari Haura, semua pandangan teralih ke jok belakang Rakha. Kosong. Itu yang mereka lihat saat ini.
"Nah, akhirnya ada yang ngerti maksud gue tadi," ujar Eby merasa lega.
"Iya, Kha, lo tidak ajak Mala pergi bareng? Terus sekarang dia di mana?" tanya Afan.
"Gue tinggal, soalnya masih molor," ujar Rakha enteng.
Mendengar penuturan Rakha, Devi, Vio, dan Haura membulatkan mata tak percaya. Mereka tahu betul sifat Mala.
"HA? APA?" ujar Vio, Haura, dan Devi bersamaan.
Di kediaman Rakha, tepatnya di kamar berwarna putih itu, gadis cantik itu masih lelap dalam tidurnya. Hingga sinar matahari yang masuk dari sela-sela jendela kamarnya mengusik ketenangan tidurnya. Ya, tadi Mala tidak bangun sholat subuh karena kedatangan tamu, jadi ia memutuskan untuk tidur lagi.
"Eummmm, jam berapa sih?" ujar Mala saat sudah membuka matanya.
"WHAT? Jam 7.30? Aaaaa, MAMA..." pekik Mala.
Tok...tok...tok...
"Non Mala, apakah baik-baik saja di dalam?" ujar Bibik Sumi (ART di rumah baru Rakha).
Krekkk... (Pintu kamar terbuka)
"Bibik, Rakha mana?" tanya Mala.
"Oh, Den Rakha sudah pergi ke sekolah, neng. Sudah dari satu jam yang lalu. Tadi Bibik sempat mau bangunin neng Mala, tapi tidak dibolehin Den Rakha, katanya biar bangun sendiri," ujar Bibik Sumi. Mendengar penuturan ART-nya itu, Mala merasa sangat panas.
"RAKHA, JELEK KAMPRET LO!" pekik Mala. Bibik Sumi hanya menutup telinganya karena suara Mala yang sangat kuat menggema di dalam kamarnya itu.
Di SMA Darma Kencana, siswa-siswi heboh melihat cowok-cowok terkenal di sekolah mereka sedang membonceng cewek menggunakan motor sport mereka.
"Wah, sudah tidak ada harapan lagi nih buat aku dapetin hati Kak Afan," ujar salah satu siswi.
"Kakak Zayyan jahat banget, hati aku atittt."
"Kak Rakha, aku mau lo dibonceng!"
"Kak Eby jahat banget sih, kok selingkuhin aku?" batin salah satu siswi itu.
"Yey, kita masih punya harapan besar buat dapetin hati Kak Rakha!" pekik salah satu siswi.
Itulah ocehan para siswi sepanjang koridor sekolah yang dilalui Rakha dkk. Bel sudah berbunyi 30 menit yang lalu. Kini Mala berada di belakang sekolah, seperti biasa memanjat pagar. Sepanjang jalan, ia terus mengomel-ngomel prihal Rakha yang sengaja tidak membangunkannya.
Tok...tok...tok...
"Permisi, Bu. Maaf telat, soalnya ban motor aku kempes," ujar Mala beralasan.
"Ya sudah, masuk saja, Mala. Tadi Haikal juga sudah bilang sama saya, kamu datang agak telat karena motor kamu bocor," ujar Bu Emi. Ya, tadi Mala sempat mengechat Ikbal, ketua kelasnya, untuk izin dia datang telat.
"Wihh, tumben lo sudah ada di kelas. Tidak di hukum lagi?" tanya Mala pada Devi.
"Ya, gimana? Si Afan teriak-teriak bangunin gue. Kalau gue tidak bangun lama-lama, budeg nih telinga," ujar Devi kesal. Mala hanya mengangguk-angguk saja mendengar penuturan Devi.
"Oh iya, Mal, tadi kenapa tidak bareng Rakha saja sih? Kan kita jadi bisa bareng datang ke sekolahnya, tentunya tidak telat lagi. Haura sama Vio juga bareng suami-suami mereka, cuma lo doang yang enggak," ujar Devi panjang lebar.
Seketika mood Mala kembali hancur gara-gara mendengar nama Rakha. Devi yang menyadari perubahan raut wajah Mala pun bertanya.
"Mal! Lo tidak apa-apa? Kok muka lo berubah kayak mau marah? Gue salah ngomong ya? Maaf ya," ujar Devi.
"Gue benci sama Rakha," ujar Mala tiba-tiba.
"RAKHA, JELEK!" teriak Mala di depan pintu ruang OSIS. Untung saja ini jam istirahat, jadi siswa/i sudah berada di kantin, kecuali anggota OSIS yang saat ini mengadakan rapat.
"Woy, kenapa teriak-teriak?" ujar Clarisa dan antek-anteknya.
"Gue tidak ada urusan sama lo. Mana Rakha? RAKHA JELEK, KELUAR LO!" ujar Mala.
"Mala, sudah ya. Kita ke kantin saja, yuk. Ini di sekolah," ujar Haura menenangkan Mala.
"Iya, La, pas di rumah saja lo obrolin baik-baik," bisik Devi karena ia tidak tahu status mereka diketahui semua orang.
"Gue tidak hau, Dev! Gue harus selesaikan sekarang juga!" ujar Mala yang sudah emosi.
"Udah keluar aja, kalian ganggu orang rapat. Ayo, us..us sana!" ujar Alifah.
"Gue tidak ada urusan sama kalian. Kenapa kalian ikut campur, HAH?" ujar Mala sambil mendorong bahu Clarisa, Jenny, dan Lisa yang menghalangi mereka masuk.
"Tau ikut campur masalah orang saja lo," ujar Devi pergi menyusul Mala dan tak lupa ia menginjak kaki Lisa.
"Auw! Gila, lo tidak lihat ada kaki orang!" ujar Lisa. Devi hanya tersenyum remeh kepada Lisa.
"Ok, jadi kita camping minggu ini, ya guys," ujar Rakha.
"Ada hal yang mau ditanyakan lagi?" ujar Afan, selaku wakil ketua OSIS.
"Saya mau bertanya, Kak. Berapa lama kita camping-nya?" tanya salah satu anggota baru OSIS.
"Kita camping selama ti..." Belum sempat Rakha menyelesaikan bicaranya, sudah ada keributan.
"RAKHA JELEKKK!" pekik Mala. Teman-temannya hanya melihat saja, tidak berani mendekat. Mereka tahu betul jika Mala sedang marah.
"Ada apa ini?" pertanyaan itu berasal dari Eby.
"Iya, Mal, lo ganggu kita rapat OSIS, lo," timpal Zayyan. Mata Haura melotot kala melihat suaminya ikut campur. Entahlah, Haura sudah pasrah dengan nasib suaminya itu.
"KALIAN DIAM!! GUE T
IDAK ADA URUSAN SAMA KALIAN!" ujar Mala yang sudah terbawa emosi.
"Kamu kenapa, hmm?" ujar Rakha lembut sambil berjalan ke arah Mala.
"Kok rasanya ngomongnya aku-kamu sih?" batin Clarisa.
"Lo masih nanya kenapa? Lo udah pikun atau gimana? Maksud lo apa ngelarang Bibik buat bangunin gue? Terus kenapa lo tidak bangunin gue? Lo sengaja kan buat gue terlambat? Terus lo bakalan ngehukum gue gitu kan maksud lo?" ujar Mala panjang lebar.
"Hah, gimana sih? Itu orang marah, Rakha tidak bangunin dia," ujar salah satu anggota OSIS.
"Apa mereka pacaran juga ya, kek Afan dkk?"
"Masak iya sih Kak Rakha sudah tidur satu kamar sama yang bukan muhrimnya?" Itulah cibiran-cibiran anggota OSIS, bahkan ada yang menghina Mala, wanita murahan...
"STOP!! Mau tuh mulut gue jahit, hah!" ujar Mala lagi.
"Lagipula kalian tidak tahu kan kalau gue dan Rakha itu sebenarnya ada...emmmmm..." Seketika mulut Mala dibekap oleh Rakha menggunakan tangannya.
"Ini adik gue, namanya Basmalah. Jadi, kalian kalau ngomong jangan sembarangan. Gue tidak mau ya kalian menghina adik gue dengan kata murahan," ujar Rakha dan membawa Mala pergi dari sana.
"Sudah kan jelas kalau mereka itu adik kakak. Jadi, bubar semua.." pekik Afan.
Post a Comment for "Di Jodohkan eps 31"