Di Jodohkan eps 32
Setelah kejadian kemarin di sekolah, Rakha berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Dia sudah merasakan betapa menakutkannya ketika Mala marah; pantas saja teman-temannya selalu takut jika Mala mengeluarkan amarahnya.
Flashback on
"Kenapa sih bawa aku ke sini? Aku mau masuk kelas!" tanya Mala kesal.
"Nanti dulu, kita selesaikan masalah kita. Lagipula, nggak baik suami istri berlama-lama marahan," jawab Rakha, berusaha tenang.
"Hahaha, nggak baik ya? Kalau tahu nggak baik, kenapa kamu ngerjain aku sampai aku hampir kena hukuman, tahu nggak, hah?" tanya Mala lagi.
Rakha hanya meneguk saliva dengan kasar. "Pantas saja teman-temannya takut kalau dia marah, kayak induk singa kehilangan anaknya," batin Rakha.
"Iya, maaf. Aku sengaja tidak bangunin kamu karena aku cuma mau memastikan kamu yang suka manjat pagar belakang sekolah itu, ternyata benar, kan?" ujar Rakha sambil mengangkat alis.
Bugh...
"Auw! Sakit, La! Ehh, mau kemana? Tunggu dulu! Masalah kita belum selesai," teriak Rakha.
Crekk...
Mala membuka pintu ruang OSIS Rakha dan terkejut melihat teman-temannya sedang menguping pembicaraan mereka.
Bug... bug... bug... (Mereka semua terjatuh)
"Auw, pantatku sakit!" ujar Devi.
"Sama, nih! Bisa-bisa tempos nih aku!" ujar Vio.
"Mala, kamu mau kemana?" pekik Haura yang melihat Mala pergi tanpa memperhatikan mereka.
"Kalian nguping?" tanya Rakha yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Hehe, dikit," jawab Afan cengengesan.
Flashback off
"Duh, gimana ya cara buat Mala tidak marah lagi? Hmm, aku tanya sahabatnya saja kali, kan mereka pasti sudah tahu," batin Rakha.
Driittt... driittt...
"CK!!! Afan, HP kamu bunyi, ganggu orang nonton drakor aja sih!" gumam Devi. Afan pun mengambil teleponnya dan menjawabnya di balkon rumahnya.
"Orang itu kenapa angkat teleponnya senyum-senyum? Wah, baru satu minggu jadi suami istri sudah selingkuh saja," batin Devi.
"AFAN...." pekik Devi.
"CK! Kenapa sih teriak-teriak?" balas Afan.
"Lo ya suami tidak tahu diri. Nih, rasain!"
Bugh... bugh... bugh...
"Auw! Auw! Sakit, Dev! Apaan sih, main pukul-pukul aja? Lo kira nggak sakit, hah?" ujar Afan geram.
"Habisnya, lo angkat telepon itu senyum-senyum. Iya, wanita mana yang tidak curiga," jawab Devi dengan raut wajah sedih.
"Oh, cemburu ya? Udah cinta ya sama aku," ujar Afan sambil menaik-turunkan alis.
"CK!! Enggak! Siapa coba cemburu sama lo," jawab Devi beralasan.
💫
"Hallo, Fan! Woy, Afan!" ujar Rakha di seberang sana. Karena tidak ada sahutan, akhirnya Rakha memutuskan sambungannya secara sepihak.
Tutttt...
"CK! Bisa-bisanya Afan bermesraan sama Devi, geli aku dengernya sok lembut," gumam Rakha.
"Aghhh, minta bantuan sama siapa lagi ya?" ujar Rakha frustrasi.
Tap... tap... tap
Bunyi langkah kaki dari arah tangga atas, terlihat Mala yang sedang menuruni tangga.
"Mau kemana kok rapi banget?" tanya Rakha ketika Mala sudah berada di bawah.
"Bukan urusan lo," ketus Mala.
"Ya urusan aku lah! Sekarang kamu itu istri aku, jadi kamu itu tanggung jawab aku sekarang," tegas Rakha.
"Serah lo," jawab Mala dan bergegas pergi dari hadapan Rakha. Namun, langkah kakinya terhenti saat mendengar ucapan Rakha.
"Oh iya, mulai sekarang harus aku/kamu, nggak ada lagi lo/gw. Kalau sampai kamu melanggarnya, aku nggak akan kasih kamu uang jajan," ujar Rakha sambil melangkahkan kakinya menuju kamarnya di atas.
"CK! Enak banget dia mengancam aku seenak jidatnya!"
💫
Mala melajukan motornya menuju kafe yang telah mereka sepakati. Tidak butuh waktu lama, kini Mala sudah berada di Kafe Pelangi.
"Maaf guys, aku telat," ujar Mala.
"Iya, nggak apa-apa. Lagian kita juga baru sampai kok," jawab Devi.
"Kalian kok bawa suami kalian sih? Kan kesepakatannya kita-kita saja, nggak ada tuh ngajak cowok-cowok!" tanya Mala lagi.
"Yeehh, kamu ya Mal, sama saja. Kamu juga bawa kan suami kamu ke sini?" ujar Vio.
"Enggak, aku sendirian kok," balas Mala.
"Terus yang di belakangmu siapa dong?" tanya Haura. Secara refleks, Mala menengok ke arah yang ditunjuk Haura.
Mala membuka matanya tak percaya. Kenapa ada makhluk ini di belakangnya? "Lo ng..." ujar Mala terhenti saat mengingat kata-kata Rakha sebelum pergi ke kafe ini.
"Kenapa, Mal? Kok nggak jadi ngomong?" tanya Devi.
"Tau ahh," jawab Mala malas dan segera duduk di bangku yang kosong.
Hening...
"Kalian mau pesan apa? Biar aku yang pesanin," ujar Afan menghentikan keheningan.
"Samain aja."
Setelah pesanan datang, mereka menyantapnya...
"Sayang, suapin dong," ujar Zayyan manja.
"Manja banget si suami aku! Aaaa, buka lebar-lebar, sayang, mulutnya!" ujar Haura.
"Uwekkkk! Mau muntah aku liatnya," ujar Eby.
"Iya nih, berasa dunia milik berdua," ujar Haura.
"Yeh, sirik aja kalian," jawab Zayyan.
"Yoi, aku juga mau dong di suapin," ujar Eby memelas.
"Ya udah, nih!" ujar Vio menyodorkan satu sendok makanan ke dalam mulut Eby.
"CK! Kalian ya! Lo pikir kita nggak bisa kayak gitu apa?" ujar Afan.
"Emang lo bisa apa?" jawab Eby remeh.
"Beb, suapin juga dong!" ujar Afan.
"CK! Ganggu makan aja sih," ujar Devi.
"Nih, Aaaaa! Buka mulut itu lebar-lebar dong, jadi tumpah kan! Tadi bilang mau minta di suapin, giliran disuapin, buka mulutnya kecil banget!" ujar Devi emosi. Semua terkekeh melihat ekspresi Afan dimarahi.
Sedangkan Rakha dari tadi belum menyantap makanannya. Entahlah apa penyebabnya...
"Dev, lihat nih film drakor bagus banget. Lo udah nontonnya belum?" tanya Mala.
"Coba lihat, Mal! Eh, iya Mal, kayaknya happy ending deh. Nanti malam aku mau nonton, ah! Lo kirim ya judulnya?" tanya Devi.
"Beres," jawab Mala dan kembali menyantap makanannya.
"Kha, lo kenapa? Kok belum makan?" tanya Zayyan.
Mendengar pertanyaan Zayyan, Mala secara refleks ikut menengok ke arah samping kanannya. Ya, benar saja, makanan Rakha masih utuh, tidak ada yang berubah sama sekali.
"Kamu kenapa nggak suka makanannya?" tanya Mala lembut, membuat jantung Rakha berdebar. Baru kali ini Mala berbicara padanya dengan lemah lembut, biasanya seperti singa yang marah.
"Nggak apa-apa," jawab Rakha dingin.
"Oh ya sudah kalau nggak apa-apa," jawab Mala lagi.
"CK! Nggak peka banget sih ini orang!" batin Rakha.
Post a Comment for "Di Jodohkan eps 32"