Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Di Jodohkan eps 35

 Brak! Pintu gudang ditendang dengan keras, memperlihatkan empat pria dengan wajah yang memancarkan amarah yang menakutkan, kedua tangan mereka mengepal. 


"KEVIN! REHAN!" pekik Rakha dan Afan saat melihat wanita yang mereka cintai dan jaga selama sebulan ini berada di dekapan kedua pria itu. 


Bugh! Bugh! Bugh! Rakha menendang Kevin tanpa jeda, sementara Afan juga menendang Rehan dengan sekuat tenaga. 


"Beraninya lo gituin cewek gue, brengsek lo!" ujar Rakha di sela-sela menghajar Kevin. Kevin terkekeh mendengar ucapan Rakha.


Bugh! Kevin membalas tendangan Rakha. "Lo yang brengsek, Rakha! Lo yang rebut Mala dari gue! Kenapa lo selalu rebut milik gue, Rakha? Kenapa? Aaaa!" ujar Kevin, meluapkan semua amarahnya. 


Bugh! Kevin lagi-lagi berhasil menendang tubuh Rakha hingga terjatuh. "Dan gue nggak akan pernah ikhlasin Mala seperti gue ikhlasin Queen dulu," bisiknya di telinga Rakha. 


Kevin kembali melanjutkan aksinya, merobek lengan baju bagian kanan Mala. "Jangan, Vin, plis... jangan!" ujar Mala dengan tangisannya.


"Gue nggak ikhlas! Lo sama Rakha udah rebut semuanya! Gue nggak mau lo juga direbutnya! Dengan cara begini, lo nggak bakal sama dia!" ujar Kevin di sela-sela aksinya yang konyol itu.


"KEVIN!" pekik Rakha saat melihat Kevin merobek baju istrinya. 


Bugh! Bugh! "Lo gila, Vin! Wanita itu harus dijaga, bukan dirusak kayak gini!" ujar Rakha. 


Bugh! Rakha terus membabi buta memukuli Kevin, emosi membara saat melihat Mala dengan mata cantiknya kini berubah menjadi sembab.


Di sisi lain, Afan menghajar Rehan hingga tepar. Untung saja Zayyan menghentikan aksi mereka berdua; kalau tidak, bisa mati dua anak itu.


"RAKHA, AFAN, STOP!" pekik Zayyan. "Lo nggak lihat tuh, Mala sama Devi udah ketakutan gitu?" tambahnya.


Seketika, Rakha dan Afan menghentikan aksi mereka, berlari mendekati istri-istri mereka. 


"Beb, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Afan, tapi tak ada jawaban dari Devi. 


Afan melihat baju Devi penuh sobekan, menutupi tubuhnya dengan jaket miliknya, kemudian memeluk Devi, memberikan kenyamanan. Ia terus mengajak ngobrol Devi, tetapi sayangnya Devi tidak menjawab satu patah pun. 


"He, sayang, kamu kenapa? Kok nggak jawab?" ujar Afan sambil memegang kedua bahu Devi. Masih tak ada jawaban. 


Afan melihat tatapan kosong dari gadisnya, yang kini sangat terpukul saat melihat gadis yang dulu bawel dan rewel kini menjadi pendiam. "Rehan, lo harus tanggung semua perbuatan lo! Gue nggak bakal tinggal diam!" batin Afan.


💫


"Rakha, hiks... hiks..." ujar Mala saat Rakha sudah berada di dekatnya. 


"He, jangan nangis ya! Masa Mala yang kuat dan pemberani nangis sih?" ujar Rakha menenangkan. 


"Hiks... takut," jawab Mala singkat, dan Rakha pun membawa Mala ke dalam pelukannya. 


"Jangan takut ya, ada aku di sini. Kamu aman," ujarnya sambil membelai surai panjang milik Mala. 


"Kevin jahat, Kha, hiks... hiks..." ujar Mala di sela-sela tangisnya, tubuhnya bergetar, dan Rakha bisa merasakannya. 


"Vio sudah dibawa ke rumah sakit, Zay?" tanya Rakha.


"Iya, sudah, Kha. Gue kasihan lihat Eby, dia merasa gagal jagain istrinya sendiri," jawab Zayyan. 


"Oh, iya, ya! Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Zayyan, tetapi Mala tak meresponsnya.


"Kha, aku takut!" ujar Mala dengan keringat dingin. 


Rakha melihat perubahan raut wajah Mala; dia sangat takut berdekatan dengan laki-laki lain selain dirinya, bahkan Zayyan pun dia tak berani. 


"Sayang, ini Zayyan, sahabat aku. Jangan takut," ujar Rakha menjelaskan kepada Mala, tetapi Mala semakin mempererat pelukannya.


"Kha, kayaknya Mala trauma deh," ujar Zayyan.


"Mending kalian bawa Devi sama Mala pulang aja deh, biar gue sama Zayyan yang susulin Vio ke rumah sakit," ujar Haura, dan semua mengangguk setuju. 


💫


Tiga hari telah berlalu, tetapi gadis cantik itu masih enggan membuka matanya. Selama tiga hari juga, Eby setia menemani istrinya itu; ia sangat sedih melihat istrinya terbaring lemah, bahkan ia takut untuk mengabari orang tuanya tentang keadaan Vio saat ini.


"By, ini ke kantin yuk, biar Haura aja jagain Vio," ujar Zayyan.


"Gue nggak lapar, Zay," jawab Eby.


"Lo jangan gila gitu dong, By. Sudah tiga hari lo nggak makan, terus lo bilang nggak lapar, hah?" ujar Zayyan sedikit emosi.


"Sayang, jangan gitu dong," ujar Haura menenangkan suaminya.


"Eby, bener kata Zayyan. Mending lo sarapan aja, ntar lo sakit lagi. Terus siapa yang jagain Vio?" ujar Haura lembut, dan Eby pun berpikir bahwa apa yang dikatakan Haura ada benarnya.


"Yaudah, Zay. Ayo kita cari makan," ujar Eby.


Mereka pun pergi ke kantin untuk mengisi tenaga. Tidak lama setelah itu, HP Zayyan berbunyi, tertera nama Afan di layar ponselnya.


Dretttttt...


"Hallo, Fan, kenapa?" tanya Zayyan.


"Lo di mana?" ujar Afan di seberang sana.


"Di kantin rumah sakit, lagi sarapan sama Eby," jawab Zayyan.


"Mana Eby? Gue mau ngomong," ujar Afan. Zayyan pun memberikan teleponnya kepada Eby.


"Hallo, Fan, kenapa?" tanya Eby.


"Gimana keadaan Vio sekarang? Maaf ya, gue nggak bisa ke sana soalnya Devi masih trauma, By. Bahkan dia sering ingin mengakhiri hidupnya," ujar Afan sedih.


"Oh iya, nggak apa-apa, Fan. Lo urus Devi aja. Jangan sampai lo lengah, nanti Devi kenapa-kenapa," ujar Eby.


"Iya, By. Sekali lagi maaf ya, belum bisa jengukin Vio," ujar Afan sebelum mengakhiri panggilannya.


Di sisi lain, Rakha sedang membujuk Mala supaya mau makan, karena selama tiga hari ini dia masih dihantui rasa takut. Bahkan, ia selalu memeluk Rakha, yang tidak bisa ke mana-mana. Jika Rakha pergi, Mala akan mengamuk.


"Sayang, makan dulu ya. Ntar sakit lagi," ujar Rakha lembut. Mala menggelengkan kepalanya tanda tak mau. 


"Jangan gitu dong, harus makan. Ya, sedikit aja," ujar Rakha membujuk. Akhirnya, Mala pun mau, walaupun hanya tiga suapan.


"Ya udah, sekarang kamu istirahat ya. Aku mau anterin ini ke bawah bentar," ujar Rakha.


"Enggak, Kha! Kamu di sini aja. Aku takut," rengek Mala.


"Enggak ada apa-apa, sayang. Di sini aman, lagian aku bentar aja, cuma ke bawah," ujar Rakha lagi.


"Enggak, Kha! Hiks... hiks... kamu di sini aja. Ntar Kevin apa-apa lagi sama aku, Kha! Hiks..." ujar Mala sambil menangis. 


"He, he, jangan nangis lagi ya. Oke, oke, aku nggak akan ke mana-mana. Aku di sini," ujar Rakha menenangkan Mala.


Akhirnya, setelah satu jam Rakha menenangkan Mala, ia pun tertidur. Rakha menatap Mala sendu; ia benar-benar tak menyangka gadis ceria dan pemberani seperti Mala kini menjadi penakut, bahkan siang bolong pun ia tak mau ditinggal. 


💫


Hari ini, Rakha dan kawan-kawan disuruh wali kelas mereka untuk kembali ke sekolah, karena sudah tiga hari mereka tidak masuk tanpa keterangan. Awalnya, Rakha meminta izin lagi untuk tidak masuk sekolah karena ada urusan, tetapi wali kelasnya bilang banyak tugas OSIS yang tertunda gara-gara mereka tidak ke sekolah beberapa hari ini.


Rakha bingung harus bagaimana, sementara Mala tak mau jauh-jauh darinya. Akhirnya, Rakha membawa Mala ke rumah sakit tempat Vio dirawat.


"Hau, gue titip Mala ya. Jangan jauh-jauh dari dia, soalnya dia takut sama orang-orang yang nggak dia kenali," ujar Rakha memberitahu Haura.


"Eh, nggak bisa gitu dong, Kha! Gue duluan nitip Devi buat Haura jagain, lagian Devi itu


 yang lebih butuh dijagain, karena Devi sering berbuat hal-hal yang di luar dugaan," ujar Afan.


"Gak, gak! Pokoknya Haura harus jagain Mala, titik!" ujar Rakha lagi.


"Ngalah dong, Kha! Gue duluan yang minta Haura jagain Devi!" balas Afan.


"STOP!" pekik Haura. "Udah, tenang aja. Gue jagain semua! Mending kalian cepat pergi sekolah, terus kalau sudah selesai, cepat ke sini," tambah Haura. Mereka pun mengangguk.


"Sayang, kamu tinggal sama Haura bentar ya. Aku ada urusan di sekolah," ujar Rakha kepada Mala, yang masih setia memeluknya karena takut dengan Eby, Afan, dan Zayyan.


"Aku ikut," ujar Mala.


"Gak boleh, sayang. Lagian sebentar aja kok," ujar Rakha lagi sambil melepaskan pelukannya.


Mala sempat memberontak, menangis sejadi-jadinya saat Rakha meninggalkannya. Rakha yang melihat itu rasanya tak tega, tetapi bagaimana lagi? Ia juga tak bisa membawa Mala, nanti satu sekolah bisa tahu tentang status mereka sekarang.


"Sabar ya, Mal. Rakha cuma bentar doang kok," ujar Haura menenangkan Mala.


"Dev, lo mau makan atau minum?" tanya Haura kepada Devi, tetapi gadis itu tidak menjawab apa yang Haura tanyakan.


Tiba-tiba, alat EKG Vio berbunyi nyaring, dan tubuh Vio kejang-kejang. Haura panik, ia meninggalkan Devi dan Mala untuk memanggil dokter.


Mala menangis ketakutan karena melihat tubuh sahabatnya itu kejang-kejang. Keringat bercucuran keluar dari pelipis Mala, badannya panas dingin; ia benar-benar takut. 


Sementara itu, Devi berjalan keluar tanpa tujuan, tiba-tiba ia sudah berada di tengah jalan. 


"AWAS DEK!" pekik salah satu pengemudi truk. 


Bruk!

Post a Comment for "Di Jodohkan eps 35"