Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Di Jodohkan eps 36

 Sebuah mobil truk berukuran besar melaju kencang mengarah pada gadis yang berdiri tegap di tengah jalan. Suara teriakan ramai menggema, memperingatkan bahaya yang mengintai. 


"Awas, Dek!" pekik pengemudi truk itu. 


"Aaaaaaaaaa, Mama!" teriak Devi, seolah mengharapkan keajaiban.


Bruk!!


Devi merasakan suatu keanehan. "Kok nggak sakit ya?" batinnya. Perlahan, ia membuka matanya, samar-samar melihat sosok pria tak asing di hadapannya.


"A-Afan!" 


Grep!! Devi langsung memeluk tubuh suaminya dengan sekuat tenaga, tangisnya tak tertahan. Ia tak tahu bagaimana nasibnya jika Afan tak menyelamatkannya.


"Udah, jangan nangis! Kamu nggak apa-apa kan, Beb? Ada yang luka nggak?" tanya Afan dengan penuh perhatian. 


Devi menggelengkan kepalanya, menandakan ia baik-baik saja. 


"Fan, kalian nggak apa-apa kan?" tanya Rakha, khawatir.


"Iya, gue nggak apa-apa. Untung saja kita tepat waktu," balas Afan, napasnya masih memburu.


**Flashback On**


"Eh, guys, kenapa orang-orang pada heboh?" tanya Eby penasaran.


"Udah lah, mending kita langsung masuk aja," jawab Zayyan.


"Tapi gue penasaran. Entah kenapa gue pengen banget lihatnya," ujar Afan, tetap ingin tahu.


"Yaudah, kita ke sana aja. Mungkin ada yang butuh pertolongan," ujar Rakha, dan mereka pun berjalan menuju keramaian.


Sesampainya di sana, Afan langsung melangkah ke tengah jalan untuk menyelamatkan gadis yang hampir saja tertabrak.


"AFAN, JANGAN!" teriak teman-temannya.


Saat Afan menyelamatkan gadis itu, ia tak tahu bahwa itu adalah Devi, istrinya. 


**Flashback Off**


"Gue nggak nyangka feeling lo kuat banget, Fan, sama Devi," ujar Eby.


"Iya, gue juga nggak tahu. Tiba-tiba hati gue tergerak untuk menyelamatkan Devi, padahal gue sebenarnya juga nggak tahu itu Devi," balas Afan, masih terkejut.


"Ya sudah, mending kita langsung masuk rumah sakit aja. Gue takut Mala kenapa-kenapa," ujar Rakha, merasakan kecemasan.


💫


"Mala..." panggil Rakha saat melihat Mala menangis di pelukan Haura.


"RAKHA..." 


Grep... 


Mala langsung berlari ke arah Rakha dan memeluk suaminya erat-erat. 


"Kok kamu nangis, gih? Udah, sekarang aku sudah di sini. Jangan nangis lagi," ujar Rakha sambil membelai rambut panjang Mala. 


"Takut..." lirih Mala di dalam dekapan Rakha.


"Sebenarnya ada apa ini, Hau? Kok Devi bisa di tengah jalan dan hampir saja tertabrak? Untung gue tepat waktu," ujar Afan dengan nada agak emosi.


"Maaf, Fan. Tadi gue panik karena Vio kejang-kejang. Terus gue tinggalin Mala sama Devi di ruangan Vio. Pas gue panggil dokter, Devi sudah nggak ada. Gue mau cari Devi, tapi Mala nggak mau ditinggal," ujar Haura menjelaskan dengan nada bergetar.


"Harusnya lo bisa dong jagain Devi. Gue kan udah amanahin dia sama lo. Gimana sih?" ketus Afan, tidak bisa menahan kemarahannya.


"Loh, kok lo salahin Haura sih, Fan? Masih untung Haura mau jagain istri lo. Gue sangat berterima kasih sama dia," ujar Zayyan.


"Lagipula, kalau istri lo nggak sok-sokan sanggup, gue nggak bakal titipin Devi sama istri lo, Zay," ujar Afan yang sudah terbawa emosi.


"Sudah, stop! Apa-apaan sih kalian? Lihat nih, cewek-cewek pada ketakutan," ujar Rakha.


"Dan, Fan, lo nggak kasihan sama Haura yang udah nangis-nangis? Lo nggak ingat Haura selalu hibur Devi selama tiga hari ini? Mungkin dia juga lelah, Fan, dan lo malah marah-marahin dia," tambah Rakha.


"Lo enak, Kha, ngomong gitu karena istri lo nggak kenapa-kenapa. Coba kalau yang hampir ketabrak tadi Mala, lo pasti sama kayak gue," ujar Afan.


"Tapi nggak gini, Fan. Lo juga harus mikirin perasaan Haura," ujar Rakha lagi.


"UDAH, STOP! Afan benar, gue yang salah. Gue nggak becus, hampir buat sahabat gue celaka. Gue emang salah," ujar Haura sambil menangis di pelukan Zayyan.


"Hau..." panggil Devi, dan Haura mendongak ketika mendengar namanya dipanggil.


"Devi, lo udah sembuh?" tanya Haura.


Devi langsung memeluk tubuh sahabatnya yang sekarang tampak lebih kurus.


"Makasih ya, selalu hibur gue. Maafin Afan ya tadi marah-marahin lo," ujar Devi.


"Beb, cepet minta maaf sama Haura," tambah Devi.


"Hau, gue minta maaf ya. Tadi sempat bentak-bentak lo, dan makasih juga karena berkat lo, Devi sudah baik-baik saja. Dia nggak teriak-teriak lagi," ujar Afan.


"Iya, gue maafin. Lagian emang salah gue kok," ujar Haura.


"Enggak, Hau. Lo nggak salah. Malahan, gue banyak-banyak makasih sama lo. Oh iya, Zay, gue juga minta maaf ya sama lo karena tadi sempat marah-marahin istri lo," ujar Afan, dan Zayyan hanya menganggukkan kepalanya.


"Oh iya, Kha, gue juga minta maaf ya, soalnya tadi juga bentak-bentak lo," ujar Afan.


"Udah santai aja, Fan. Lagian, gue tahu kok lo lagi cemas. Mungkin bener kata lo tadi, kalau gue di posisi lo, mungkin gue bakal melakukan hal yang sama," balas Rakha.


"Nah gitu dong, kan enak liatnya baik-baik gini," ujar Eby.


Tak lama setelah itu, dokter keluar dari ruangan dengan raut wajah tak bisa diartikan.


"Gimana, Dok, keadaan istri saya?" tanya Eby penuh harap.


"Istri?" tanya dokter agak bingung, melihat di depan sana sekelompok remaja yang mengaku bahwa yang sedang ia rawat adalah istri mereka. 


Bahkan dokter itu sempat mengira mereka adalah adik kakak, tetapi setelah mendengar pernyataan Eby, ia berpikir bahwa mereka adalah anak remaja yang menikah karena melakukan hal terlarang.


"Eh, enggak, Dok. Maksud teman saya ini, gimana keadaan adiknya? Iya, adiknya, bener kan, By?" ujar Afan, berusaha memperbaiki suasana.


"Oh, hampir saja saya menduga hal yang enggak-enggak. Ini adiknya, alhamdulillah sudah melewati masa kritis. Sebentar lagi dia akan sadar sekitar 2 atau 3 jam lagi," ujar dokter itu, dan mereka menghela napas lega.


"Alhamdulillah," ujar mereka serentak, kecuali Mala yang masih tertidur di bahu suaminya.


"Ya sudah, kalian boleh masuk. Tapi ingat, jangan ajak bicara terlalu banyak, karena pasien butuh istirahat yang cukup," ujar dokter.


"Baik, Dok."


"Ayo kita masuk," ujar Eby.


"Kalian saja ya yang masuk. Gue nggak bisa. Mala tidur di pundak gue," ujar Rakha.


"Ya sudah, kita masuk duluan ya, Kha," ujar Afan.


Begitu semua masuk, tiba-tiba Rakha menerima telepon dari orang tua mereka. Karena Rakha tidak ingin membangunkan Mala, ia menjauh sedikit.


"Kamu tidur di sini dulu ya, Sayang. Aku mau angkat telepon sebentar," gumam Rakha sambil meletakkan Mala di kursi tunggu, dengan tasnya sebagai alas kepala dan jaketnya sebagai selimut.


"Assalamualaikum, Pa," ujar Rakha saat sudah agak jauh dari Mala, tetapi masih bisa memandangi gadisnya.


"Waalaikumsalam, Rakha! Gimana kabar kalian di sana? Baik-baik saja, kan? Mala nggak kenapa-kenapa?" tanya ibunya, Anggun, cemas.


"I-Iya, Ma. Kita baik-baik saja," jawab Rakha, berusaha tenang.


"Oh, syukurlah. Mama sama Mama Lina cemas karena beberapa hari ini Mala tak memberi kabar seperti biasanya. Sekarang Mala di mana?" tanya Anggun lagi.


"Ada kok, Ma. Mala lagi tidur. Karena sibuk banyak kegiatan di sekolah," bohong Rakha.


"Oh, ya sudah. Kalau Mala bangun, nanti hubungi mama lagi ya. Tapi pakai nomor hp papa saja ya, karena hp mama rusak masih di konter," ujar Anggun.


"Iya, Ma."


Tut... 


Sambungan telepon


 dimatikan oleh ibunya. 


Saat Rakha kembali ke tempat di mana Mala berada, ia tak melihat Mala di tempatnya. Hanya ada jaket sebagai selimut dan tas sebagai alas kepalanya. 


"Mala mana, kok nggak ada?" gumam Rakha.


"Apakah dia sudah bangun dan masuk ke ruang Vio?" pikirnya sambil bergegas menuju ruang di mana Vio dirawat.


"Eh, Kha, Mala mana? Aku mau ketemu, kata mereka Mala lagi tidur," tanya Vio dengan cemas.


"Loh, Mala nggak ada di sini?" balas Rakha, kebingungan.


"Iya, nggak ada. Bukannya tadi Mala sama lo lagi tidur?" tanya Devi.


"Iya, tadi tidur. Terus gue tinggal angkat telepon sebentar. Gak terlalu jauh, terus pas gue balik lagi, Mala nggak ada," ujar Rakha.


"Terus, Mala ke mana dong?" tanya Vio, cemas.


"Udah, Sayang. Kamu baru sembuh, jangan pikirkan hal-hal gini," ujar Eby, berusaha menenangkan istrinya.


"Gimana mau tenang, By? Mala itu sahabatku, lagi nggak baik-baik saja, dan sekarang hilang!" ujarnya sambil menangis.


Ting...


Sebuah notifikasi muncul di layar hp Rakha. 


"Kalo lo mau istri lo selamat, cepet kesini dengan membawa uang 5M. Gue tunggu sampai nanti sore," isi pesan tersebut.


Bugh!


"BERENGSEK!" pekik Rakha, penuh kemarahan dan kekhawatiran.

Post a Comment for "Di Jodohkan eps 36"