Di Jodohkan eps 37
"Lo serius, Kha, mau kesitu sendirian? Gue yakin orang itu pasti punya rencana licik," ujar Afan, cemas.
"Iya, gue juga merasa gitu, tapi gimana lagi? Dia ngancam kalo gue bawa polisi atau teman-teman, mereka akan celakai Mala," jawab Rakha, dengan wajah penuh kerisauan.
"Gini aja, Kha. Kita ikut lo, tapi kita bakal pantau lo dari kejauhan supaya mereka nggak curiga," ujar Eby, menawarkan solusi.
"Benar, Kha! Kalo lo sendirian, gue bener-bener nggak yakin orang itu akan semudah itu nyerahin Mala," Zayyan menambahkan.
"Oke, kalian boleh ikut. Oh iya, Fan, uangnya sudah disiapkan belum?" tanya Rakha.
"Sudah, Kha! Lo mending sekarang pergi aja. Lebih cepat lebih baik, gue takut Mala tambah trauma," Afan berkata tegas.
"Iya, Fan. Gue juga takut Mala kenapa-kenapa," ujar Rakha, suaranya penuh kesedihan.
"Kalo gitu, gue duluan ya. Lo bertiga hubungi The Boy, minta bantuan buat kesana, dan jaga di sini. Gue takut mereka bakal celakai istri-istri kalian," sambung Rakha.
The Boy merupakan geng motor mereka, yang dipimpin oleh Rakha dan wakilnya Afan. Geng motor mereka bukanlah geng yang suka bikin onar; mereka sering ikut dalam kegiatan pembersihan dan bersedekah kepada anak-anak panti.
The Boy memiliki anggota inti: Eby, Zayyan, Betran, Zaki, dan Rey. Namun, Betran, Zaki, dan Rey berbeda sekolah dari Rakha, Afan, Eby, dan Zayyan, sehingga mereka jarang bertemu. Sejak menikah, Rakha dan teman-temannya juga jarang berkumpul di markas karena mereka sudah memiliki tanggung jawab sebagai suami.
Di gubuk mungil tengah hutan yang rindang, Mala berada dalam ketakutan, dikelilingi pria-pria berbadan kekar. Mereka mengancam akan menghabisi Mala. Ketika tubuhnya bergetar, dia merasa kepanasan dan dingin bercampur.
"K-Kalian siapa?" lirih Mala, berusaha menahan rasa takutnya.
"Anda tidak perlu tahu siapa saya. Yang terpenting saat ini, suami Anda harus segera kesini untuk menyelamatkan Anda. Jika tidak..." Orang itu menggantung omongannya, mengangkat pisau dan menempelkan ke leher Mala.
"Kalau tidak, leher mulus Anda ini akan terpisah dari kepala mungilmu ini," sambungnya dengan tawa yang menggema.
"A-Apa salahku?" tanyanya gugup.
"Salah Anda menikah dengan Raden Rakha. Siapa pun yang memiliki hubungan dengannya, saya pastikan hidupnya sengsara, bahkan mereka akan mati di tangan saya."
Bugh!
Mala terjatuh setelah pria itu menendangnya.
Plak!
Ia menarik Mala dan menampar pipi mulusnya hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Ini baru permulaan, sayang. Lihat saja ketika suamimu tiba di depan matanya, saya akan pastikan nyawamu akan habis di tangan saya! KAMU DENGAR ITU, BASMALAH?" pekik orang itu bak orang kesetanan.
"Rakha, tolong!" lirih Mala sebelum kesadarannya menghilang.
"WOY, PENGECUT! KELUAR! GUE SUDAH DATANG, JANGAN JADI PENGECUT, LO CEPAT KELUAR!" pekik Rakha dari luar gubuk, berusaha masuk, tapi beberapa pria menghalangi jalannya.
"Raden Rakha, akhirnya lo datang juga," ujar orang itu.
"Jangan banyak bacot! Mana istri gue?" tantang Rakha, dengan emosi yang sudah meluap.
Pria itu terkekeh mendengar ucapan Rakha. "Istri baru umur belasan, sudah punya istri. Pasti berbuat nggak bener," ujarnya.
Bugh!
"JAGA OMONGAN LO, BRENGSEK!" seru Rakha, tidak bisa menahan emosinya.
"Wahh, wahh, wahh! Sabar, Raden Rakha. Lo mau celakai gue dan istri lo, ini juga celaka mau," jawab orang itu, menunjukkan video Mala yang sedang digantung.
"Mala..." gumam Rakha.
"MAU LO APA, HAH! DAN LO SIAPA? GUE GAK KENAL!" pekik Rakha, penuh kebingungan.
"Jangan teriak-teriak dong. Lagian masa sih lo nggak kenal gue? Tapi lo kenal kan sama Bapak Sanjaya Kelana, orang yang papa lo masukkan ke penjara tahun lalu?" ujarnya.
"Sanajaya Kelana?" lirih Rakha.
"Iya, gue putra dari Bapak Sanjaya Kelana! Gue Senja. Gue nggak terima atas keputusan dari papa lo yang menjebloskan papa saya ke penjara," jelas Senja dengan penuh dendam.
Rakha terkekeh mendengar penuturan itu. "Kenapa lo nggak terima? Orang jahat dan bejat kayak bapak lo itu emang pantas dijebloskan di jeruji besi," balas Rakha dengan tegas.
"CURANG!"
Bugh!
Senja menendang Rakha.
Bugh!
Rakha membalas tendangan itu.
💫
"Guys, gimana ini? Apa kita bantu Rakha sekarang?" tanya Zaki.
"Mending kita cari keberadaan Mala," ujar Betran.
"Yaudah, Trand, lo sama Zaki cari Mala. Biar gue sama Afan dan Eby bantu Rakha," ujar Rey, membagi tugas dengan cepat.
Mereka pun menyelusuri gubuk itu. Namun, saat mereka mencari di dalam, mereka tidak menemukan Mala.
"Zak! Mala nggak ada di sini. Terus kita cari di mana?" tanya Betran, kebingungan.
"Mungkin mereka bawa Mala kabur. Mending kita cari di luar," saran Zaki.
Mereka menyelusuri hutan, sampai tiba di dekat jurang. Yang mengejutkan, mereka melihat Mala sedang digantung di pohon dengan jurang yang suram di bawahnya.
💫
"Kha, mending lo selamatin Mala. Biar kita urus mereka," ujar Rey.
"Ya udah, kalian urus mereka," jawab Rakha, bergegas pergi.
Afan tadi mendapat kabar dari Zaki bahwa mereka menemukan keberadaan Mala. Ketika Rakha tiba di sana, dia benar-benar terkejut melihat Mala digantung.
"Raden Rakha, akhirnya lo kesini juga untuk menyaksikan istri tercintamu ini mati di tangan gue," ujar Senja, dengan tawa sinis.
Senja menghilang dari hadapan Rakha saat mereka sedang berkelahi. Sekarang dia menggerakkan semua anak buahnya untuk menyerang Rakha dan membawa Mala pergi dari gubuk itu.
"Plis, Senja, jangan lakukan itu!" lirih Rakha, berusaha merayu.
"HAHAHA, kenapa, Raden Rakha? Lo takut dia mati? Ini salah keluarga lo! Gara-gara papa lo menjebloskan papa gue ke penjara, mama gue serangan jantung dan meninggal. Sekarang lo harus rasakan hal yang sama, RAKHA!" Ujar Senja, sambil mengangkat pedangnya ke atas.
Satu!
Dua!!
Ti........ga!!!
"MALA......." pekik Rakha, dengan teriakan yang menggema di hutan.
Post a Comment for "Di Jodohkan eps 37"