Di Jodohkan eps 38
" Hahaha," tawa Senja menggema di hutan itu. " Lo tenang aja, Rakha. Gw nggak bakal bunuh istri lo ini sebelum kalian berdua mengucapkan kata perpisahan," ujarnya.
" Lepasin Mala, Senja. Lo gila ya?" tanya Rakha dengan nada putus asa.
" IYA, GW GILA. GW GILA KARENA KELUARGA LO, RADEN RAKHA!" pekik Senja, suara kemarahannya menggema. " Cepat ucapin salam perpisahan lo ke istri tercinta lo ini sebelum gw lepas tali ini. Lo tau kan di bawah itu jurangnya gimana? Istri lo kalau udah jatuh, nggak bakal hidup lagi."
" Senja, gw mohon, plis lepasin Mala," ujar Rakha, matanya penuh harapan dan kesedihan.
Doorr!! Senja terjatuh kesakitan setelah Rakha menyerangnya. Dalam kondisi tak berdaya, Senja akhirnya melepaskan tali yang mengikat Mala di atas pohon. Tubuh Mala meluncur ke jurang yang dalam.
" MALA...," pekik Rakha histeris, hatinya hancur saat melihat sang istri terjatuh. " Kha!" panggil Afan.
" Hiks...hiks... Mala, Fan, apa yang harus gw bilang sama Mama Papa gw dan mertua gw?" gundah Rakha.
" Siapa yang nembak Senja tadi, Fan?" tanya Rakha.
" Aparat kepolisian, Kha," jawab Afan.
" Mana mereka? Kenapa mereka nggak liat situasi dulu? Harusnya mereka tahu situasinya bukan asal tembak!" marah Rakha, emosinya memuncak.
" Kha, yang polisi lakukan itu benar," ujar Zaky.
" Iya, Kha. Tadi anak buah Senja ingin nembak lo, jadi polisi lebih dulu nembak Senja. Mereka takut dan kabur. Sekarang polisi lagi mengejar mereka," tambah Betrand yang baru tiba.
" GW GAK PEDULI, GW MAU DITEMBAK ATAU BAHKAN MATI! TAPI MALA GAK CELAKA KEK GINI!" pekik Rakha, membuat semua teman-temannya menatapnya dengan sedih. Mereka baru kali ini melihat Rakha sehancur-hancurnya.
" Lo tenang dulu, Kha! Mending kita bantu tim SAR untuk cari jasad Mala dan Senja," ujar Rey.
" MAKSUD LO APA, REY? LO NYUMPAHIN ISTRI GW MENINGGAL GITU, HAH?" ujar Rakha, mencengkeram kerah baju Rey.
" Gak gitu, Kha," balas Rey terbata-bata.
" Gak gitu gimana, Rey? Sudah jelas-jelas lo tadi bilang jasad Mala. Terus itu apa kalau lo nggak nyumpahin Mala mati?" ujar Rakha, kemarahan semakin memuncak.
" Kha, sadar! Rey itu sahabat kita, lo nggak boleh gini dong. Dengan lo gini, apa Mala bisa ketemu?" ujar Eby, mencoba menenangkan Rakha.
Rakha pun melepaskan cengkraman itu. Ia akhirnya ikut mencari Mala bersama tim SAR.
Kabar hilangnya Mala sampai ke telinga orang tua mereka yang berada di London. Lina dan suaminya pun langsung pulang ke Jakarta, bahkan kedua orang tua Rakha juga pulang, sedangkan orang tua teman-temannya tidak bisa pulang karena banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan.
Drittt.... " H-hallo, Ma," ujar Rakha dengan gugup.
" Hallo, Kha. Ini Papa. Sekarang kamu serlok lokasi kamu sekarang berada," ujar Ali, papa mertuanya.
" Iya, Pa. Rakha serlok sekarang. Emang Papa udah ada di Jakarta ya?" tanya Rakha.
" Belum," jawab Ali singkat, lalu memutuskan sambungan telepon itu. Rakha menghembuskan napas kasar, merasa papa mertuanya sedang marah padanya.
Sambungan terputus!
Pencarian Mala dihentikan terlebih dahulu karena hujan deras yang mengguyur. Rakha awalnya tak mau ikut pulang, namun atas paksaan teman-temannya, akhirnya ia menyetujuinya.
Hari mulai pagi, Rakha segera mandi dan melaksanakan kewajibannya sebagai umat Muslim, meminta petunjuk dari Sang Maha Penguasa alam semesta ini untuk memberikannya petunjuk di mana keberadaan istrinya.
" Kha, kita langsung cari Mala atau tunggu Papa sama Mama lo tiba dulu?" tanya Afan.
" Kita langsung ke sana aja. Lagian Papa sama Mama gw serlok aja, semakin cepat cari Mala, lebih cepat juga kita menemukannya," ujar Rakha, semangatnya mulai tumbuh.
Hari ini tim SAR dan Rakha cs melanjutkan pencarian Mala dan Senja lagi. Walaupun Senja yang membuat Mala seperti ini, mereka juga harus mencari Senja sebagai wujud kemanusiaan.
Sudah tiga jam lamanya Rakha mencari Mala, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan gadis itu. " La, tolong beri aku petunjuk di mana keberadaan kamu sekarang," batin Rakha.
" Rakha!" panggil dua pria paruh baya yang mendekat ke arahnya.
" Papa," panggil Rakha sambil berlari ke arah dua pria paruh baya itu.
" Maaf'in Rakha, Papa nggak bisa jagain Mala dengan baik. Papa boleh marahin Rakha atau pukul Rakha sekalian. Rakha nggak marah," lirih Rakha, air matanya mulai menetes.
Grep! Miko, ayahnya, memeluk putra semata wayangnya. Ia tahu bahwa putranya sedang terpuruk. " Jangan gini dong, Kha. Mana jagoan Papa selama ini yang pantang menyerah?" ujar Miko, menguatkan.
" Tapi Mala, Pa, blm ketemu sampai saat ini," gumam Rakha.
" Udah, Kha. Papa yakin Mala pasti kuat. Dia sekarang lagi nungguin kita untuk cari dia," ujar Ali, ikut menimbrung.
" Pa, Papa nggak marah sama Rakha?" tanya Rakha kepada Papa mertuanya. Ali pun menggelengkan kepalanya.
" Makasih ya, Pa," ujar Rakha, beralih memeluk Papa mertuanya itu.
" Sekarang kita sama-sama cari Mala lagi, ya!" ujar Ali. Mereka pun melanjutkan pencarian Mala.
Hari berganti hari, malam berganti siang, bulan berganti matahari, namun gadis cantik itu masih belum bisa ditemukan. Tepatnya sudah satu minggu hilangnya Mala, sementara Senja sudah ditemukan pada hari ketiga pencarian dengan keadaan tidak bernyawa.
" Hari ini hari terakhir pencarian Mala. Kalau hari ini masih tidak ditemukan, maka Mala dinyatakan meninggal dan pencarian ini dihentikan," ujar salah satu tim SAR.
Rakha menghembuskan napasnya kasar. Kenyataan semacam apa ini? Baru beberapa bulan mereka menikah dan mulai akrab, tetapi musibah besar menerpa rumah tanggannya. Teman-teman Rakha dan Mala tidak ikut partisipasi mencari Mala karena mereka harus ikut camping, apalagi mereka anggota OSIS.
Rakha awalnya tak diizinkan untuk tidak ikut camping karena ia adalah ketua OSIS di sekolah itu. Namun, ia tak menghiraukan semua itu; ia memilih untuk mencari istrinya. Mana mungkin ia bersenang-senang sedangkan istrinya belum ditemukan.
Hari ini, Mala dinyatakan telah tiada. Orang tua Mala dan Rakha, para sahabatnya, serta beberapa tim SAR yang ikut berpartisipasi mencari Mala selama satu minggu ini pun ikut melaksanakan sholat ghaib. Setelah itu, mereka menghamburkan bunga sebagai penghormatan kepada almarhumah Mala.
" Aku masih belum percaya, La. Kamu tinggalin aku secepat ini," batin Rakha.
" Selamat jalan, Mal. Lo sahabat terbaik gw," batin Haura.
" Selamat jalan, Mala. Lo bu ketua The Boy terbaik," batin Zaky.
" Lo bener tinggalin kita, La? Lo nggak mau marahin gw lagi kalau suka nyontek sama lo?" batin Devi.
" Mala, lo yang tenang ya di sana. Gw janji nggak bakalan bikin ulah lagi," batin Vio.
" Mal, lo tega banget tinggalin Rakha. Lo nggak liat seberapa terpuruknya dia saat ini?" batin Afan.
Setelah menaburkan bunga, mereka pun pergi pulang ke rumah masing-masing. Namun saat beranjak dari sana, Mama Mala jatuh pingsan karena tak kuat menerima kenyataan ini.
Bruk! " Lina...lin, bangun dong! Jangan gini. Cukup Mala yang tinggalin aku," lirih Ali, papa Mala.
" Li, mending kamu bawa Lina ke mobil. Kita bawa dia ke rumah sakit," ujar Anggun, mama Rakha.
Hari ini, Rakha mulai melakukan aktivitas biasanya, yaitu sekolah. Saat ini, Rakha tinggal di rumah orang tuanya atas permintaan sang Mama. Anggun memutuskan untuk tetap berada di Jakarta; ia takut terjadi apa-apa pada putranya itu, sedangkan Papa Rakha sudah kembali ke London.
Tap! Tap! Tap! Langkah kaki Rakha sudah terdengar. Anggun menoleh ke sumber suara itu.
" Sayang, kamu yakin mau sekolah?" tanya
Anggun.
" Iya, Ma. Lagian udah lama Rakha nggak sekolah, takutnya nanti nilai Rakha merosot lagi," jawab Rakha.
" Oh, yaudah. Sini kita sarapan sama-sama," ujar Anggun, yang diangguk-angguki Rakha.
Di sekolah, sudah banyak siswa-siswi yang datang. Semua siswa/i tahu bahwa Mala sudah tiada. Mereka sedih mendengar itu semua, apalagi fans-fans Rakha. Mereka sangat terkejut dan sedih, karena mereka tahu kalau Mala adalah adiknya Rakha. Mereka nggak tahu bahwa Mala bukan adiknya, melainkan istrinya.
Brumm.....brumm..... Deruman motor ninja sport warna merah itu menggema di penjuru sekolah, membuat semua mata tertuju padanya. Rakha! Ia sudah tiba di sekolah dan disambut oleh para sahabatnya.
" RAKHA....," pekik Zayyan.
" Ck! Jangan teriak-teriak bikin mood gw tambah hancur aja!" ketus Rakha, pergi meninggalkan teman-temannya.
" Yah guys, sifat kulkasnya kembali lagi nih. Nggak seru," keluh Eby.
" Ya gimana lagi, jadi Rakha nggak mudah. Kita harus kuatkan Rakha biar dia kembali ceria lagi," ujar Afan.
" Emang bisa?" tanya Eby.
" Gw gk tau, tapi kita usaha aja dulu," balas Afan.
" Ayolah, mending kita cabut. Bentar lagi juga bel!"
" Rakha, gw turut duka cita ya atas meninggalnya adik lo," ujar Clarisa saat berada di ruang OSIS.
" Iya, makasih!" balas Rakha. Iya, saat ini sudah bel istirahat, tetapi Rakha lebih memilih di ruang OSIS sendirian. Namun, Clarisa menghampirinya.
" Lo nggak ke kantin makan, Kha?" tanya Clarisa.
" Gak!" singkat Rakha.
" Mau gw beli ini makanannya, terus kita makan bareng di sini? Gimana, Kha?" tanya Clarisa lagi.
" LO BISA DIEM GAK? GW BILANG ENGGAK YA ENGGAK!" ujar Rakha dengan berteriak.
Mendengar itu, Clarisa mematung tak percaya. Rakha marah padanya, padahal niatnya baik. Afan yang baru tiba di ruang OSIS pun terkejut. Rakha sangat marah pada Clarisa, tanpa tahu apa alasannya.
" Clar, mending lo keluar aja dulu. Rakha lagi nggak mood buat diajak ngobrol," ujar Afan. Clarisa pun mengangguk dan pergi dari sana.
" Kha, lo jangan gitu dong. Kasian lo Clarisa sampai ketakutan gitu," ujar Afan.
" Salah dia sendiri, Fan. Gw udah ngomong lembut sama dia, tapi orang itu kayaknya nggak bisa diajak ngomong baik-baik," ujar Rakha.
" Yaudah, lo nggak mau ke kantin gitu? Muka lo juga pucet, tuh!" ujar Afan.
" Gak! Gw nggak lapar, Fan. Lo aja," ujar Rakha.
" Yaudah, gw ke kantin dulu. Ya nyusul temen-temen lo. Jangan sedih terus. Ntar Mala ikut sedih lo," ujar Afan, beranjak dari sana.
Saat ini, tinggal lah Rakha sendiri. Ia merenung, memikirkan Mala. Ia tak percaya bahwa Mala telah tiada.
" La, sebelum jasadmu belum ditemukan, maka aku akan terus menganggapmu masih ada di dunia ini. Tolong beri aku petunjuk, La! Beri aku harapan untuk bertahan hidup," batin Rakha.
" Beb, mana Rakha-nya? Kok kamu sendirian sih?" tanya Devi saat melihat suaminya itu sendiri menghampiri mereka.
" Katanya dia nggak lapar," balas Afan.
" Gw rasa sih bukan nggak lapar. Cuma Rakha-nya masih sedih," ujar Vio.
" Iya, sih. Bener kata Io. Kasihan Rakha sekarang banyak sendirinya daripada kumpul sama kita," ujar Haura, ikut menimbrung.
" Iya, sedih banget jadi Rakha! Kita juga kehilangan sosok Mala. Soalnya Mala itu sahabat kita dari kecil," ujar Eby.
" Udah ah, jangan melow-melow. Mending kita makan dulu. Setelah itu kita hibur Rakha biar dia juga bangkit dari keterpurukan ini," ujar Zayyan, yang disetujui semua.
Post a Comment for "Di Jodohkan eps 38"