Di Jodohkan eps 39
Rakha berjalan di lorong sepi dan gelap, bingung ke mana arah tujuannya. Tiba-tiba, secercah cahaya menarik perhatiannya, dan ia berlari ke arah cahaya itu.
"Indah," bisiknya saat melihat taman yang dipenuhi bunga dan pepohonan rindang. Ia mengamati sekeliling hingga perhatiannya tertuju pada seorang gadis yang sedang menanam bunga.
Dengan penuh harapan, Rakha melangkah mendekati gadis itu, berharap bahwa dia adalah Mala, gadis yang dicari-carinya.
"M-Mala," lirih Rakha saat ia sudah berada di belakangnya.
Mendengar suara itu, gadis yang sedang menanam bunga menoleh dengan senyum. "Kamu masih mencariku, Kha?" tanyanya. Rakha segera mengangguk.
"Aku selalu mencarimu, bahkan aku tidak sempat mengurus diriku sendiri demi mencari keberadaanmu," balasnya dengan penuh emosi.
"Jangan lakukan itu, Kha! Aku sudah bahagia di sini. Pergilah, belum saatnya kamu kembali bersamaku," ujarnya.
"Enggak! Aku mau pulang bersamamu, Mala," lirih Rakha, matanya penuh harapan.
"Aku bahagia, Kha, di sini. Kamu pergilah, belum saatnya kamu berada di sini," Mala menegaskan.
"Sampai kapan?" tanya Rakha, tak ingin berpisah.
"Sampai Allah mengizinkanmu. Pergilah," kata Mala sambil mendorong Rakha mundur, membuatnya terjatuh kembali ke lorong gelap yang tadi dilaluinya.
"MALA........." pekik Rakha, merasakan kesedihan yang mendalam.
"Kha, bangun, sayang. Kenapa?" Anggun, ibunya, menepuk-nepuk pipi Rakha, membangunkannya dari mimpinya.
"Mala, Ma, di mana Mala? Tadi Rakha ketemu sama dia, terus dia tidak mau ikut pulang, Ma," ujarnya, sudah terisak.
"Iklaskan Mala, ya, Kha," Anggun mencoba menenangkan.
"M-maksud Mama apa? Mama juga anggap Mala meninggal, Ma?"
"Bukan gitu, sayang," Anggun berusaha menjelaskan, tapi Rakha sudah kehilangan kendali.
"Udah lah, Ma, Mama sama saja dengan yang lain, nyumpahin Mala mati. Rakha tidak suka, mending Mama keluar aja dari kamar Rakha," ujarnya, penuh emosi.
"Enggak, sayang. Mama percaya, kok, Mala masih hidup. Mama yakin sama Mala, dia kan anak yang kuat," ujar Anggun, berbohong untuk menenangkan Rakha.
"Mama serius?" tanya Rakha, harap-harap cemas. Anggun mengangguk.
"Makasih ya, Ma. Mama satu-satunya yang percaya sama keyakinan Rakha kalau Mala masih hidup," ucap Rakha sambil memeluk Anggun, yang menyembunyikan air matanya.
"Maafkan Mama, Kha. Mama juga tidak yakin Mala selamat, ini sudah tujuh bulan Mala menghilang," batin Anggun. Tak terasa, air matanya menetes ke wajah Rakha.
Satu tetes air mata itu jatuh tepat di pipi mulus Rakha. Ia mendongak menatap ibunya. "Mama kenapa?" tanya Rakha.
"Maaf," lirih Anggun.
"Buat apa? Mama tidak ada salah sama Rakha," jawab Rakha, bingung.
"Maafkan Mama, gara-gara perjodohan ini, nasib kamu seperti ini," Anggun mulai terisak.
"Enggak, Ma. Rakha justru beruntung Mama jodohkan dan menikah sama Mala," jawab Rakha sambil menyeka air mata Anggun.
Malam ini adalah malam perayaan anniversary ke-1 tahun atas pernikahan Afan dan teman-temannya. Tepat satu tahun lalu, mereka terpaksa menikah karena permintaan orang tua mereka. Seiring berjalannya waktu, cinta tumbuh di hati mereka. Namun, sayang, di antara pernikahan mereka, ada satu pasang suami istri yang harus berpisah karena takdir.
Seharusnya hari ini adalah hari bahagia mereka, tetapi takdir berkata lain. Acara ini tetap dilangsungkan karena permintaan Rakha; ia tidak mau merusak kebahagiaan teman-temannya karena kesedihannya.
"Kha, kok belum siap-siap? Kan sebentar lagi acaranya dimulai," tanya Anggun yang berada di dalam kamar.
"Mama sama saja pergi, Rakha mau di rumah aja, mau tidur," jawab Rakha, enggan.
"Serius? Kamu tidak kasihan sama teman-teman kamu? Pasti mereka sedih lihat kamu tidak datang," Anggun berusaha membujuk.
"Nanti Rakha chat aja, Ma. Mama pergi saja, nanti terlambat lagi."
"Yaudah, Mama pergi dulu ya. Assalamualaikum," Anggun pamit.
"Waalaikumsalam, hati-hati, Ma," jawab Rakha, kembali berbaring di ranjangnya.
Di gedung yang megah itu, acara telah dimulai. Teman-teman Rakha menatap sendu ke arah Anggun yang datang sendirian.
"Rakha tidak datang ya, Beb?" tanya Afan kepada istrinya.
"Mungkin dia masih sedih, Beb," jawab Devi.
"Sampai kapan dia larut dalam kesedihan ini? Aku kasihan sama dia, Beb," ujar Afan.
"Sampai ia menemukan Mala," jawab Devi.
"Kalau Mala tidak ketemu lagi?"
"Kenapa kamu ngomong gitu? Kalau Rakha denger, dia pasti marah banget," ujar Devi.
"Tujuh bulan, Beb. Tujuh bulan Mala telah hilang. Bahkan selama tujuh bulan itu, Rakha tidak pernah absen dalam mencari Mala, menyelusuri hutan itu. Terus apa yang ia peroleh? Tidak ada," jawab Afan. Devi terdiam, mencerna perkataan suaminya.
"Devi, Afan, cepet sini. Acara sudah mau dimulai!" pekik Eby, memanggil mereka.
Acarapun dimulai, banyak tamu memberi ucapan selamat. Tak sedikit juga yang menggoda mereka mengenai anak, tetapi ketiga laki-laki remaja itu hanya tersenyum, sedangkan para perempuan menjawab, "Kita masih sekolah."
Para tamu undangan menikmati makanan. Devi, seperti biasa, mengajak Afan untuk tiktok-an. Vio berfoto bersama Eby, sedangkan Haura dan Zayyan menatap sendu.
"Moment ini seperti terulang kembali dari satu tahun lalu. Namun pasangan pasutri berkurang," gumam Haura, yang didengar Zayyan.
"Kamu benar, Hau. Dulu kita maksa Rakha dan Mala foto, walaupun mereka menolak. Eh, pas tahu hasilnya, mereka malah minta difoto lagi," ujar Zayyan sambil terkekeh, mengenang hal kocak itu.
Sementara itu, di rumah Rakha, tepatnya di kamarnya, ia sedang berbaring sambil melihat video-video kiriman ibunya yang menunjukkan keenam sahabatnya sedang merayakan anniversary ke-1 mereka.
"Seharusnya malam ini kita juga merayakan anniversary kita, La," lirih Rakha, merindukan Mala.
Hari ini, Afan sangat repot karena Devi, istrinya, ingin ikut dalam pertukaran pelajar di sekolah lain, meski mereka belum tahu sekolah mana yang akan mereka datangi.
"Aku ikut!" rengek Devi.
"Enggak boleh, Devi. Ini tugas sekolah. Lagian kamu kan juga harus masuk sekolah. Ingat, kamu sudah kelas XI," jawab Afan tegas.
"Iya, terus kenapa kalau kelas XI? Pokoknya aku mau ikut, titik!" balas Devi dengan suara sedikit meninggi.
"Gini aja, kita mending ke sekolah dulu. Kalau diizinin, kamu boleh ikut. Kalau tidak, ya tidak bisa," ujar Afan, terpaksa.
Saat ini, mereka semua telah tiba di sekolah. Afan menanyakan apakah boleh membawa seseorang ke desa tujuan mereka, tetapi guru tidak mengizinkan, apalagi jika orang yang diajak itu masih sekolah.
"Dengar apa kata Pak Kapsek tadi?" tanya Afan.
"Iya," ketus Devi dan pergi dari sana.
"Ya, ngambek," ujar Zayyan.
"Lagipula, kenapa sih Devi mendesak banget mau ikut?" tanya Eby.
"Enggak tahu, tiba-tiba dia merengek mau ikut," jawab Afan.
"Emang istri-istri kalian pada enggak mau ikut?" tanya Afan lagi.
"Enggak," jawab mereka serempak.
Hening sejenak.
"Rakha mana sih? Lama banget. Bentar lagi kita berangkat nih," ujar Zayyan.
"Nah, itu orangnya panjang umur," ujar Eby.
"WOY RAKHA, CEPETAN!" pekik mereka bertiga.
"CK! Iya, iya," Rakha melangkahkan kakinya cepat. Ini adalah kesalahannya datang terlambat. Seharusnya ia sudah ada di sekolah jam
7, tetapi ia bangun sangat siang karena begadang entah karena apa hingga tidur larut malam.
Bruk!
"Aw, s-sakit!" rengek seorang gadis yang ditabrak Rakha.
"Eh, maaf. Aku tidak sengaja. Sini, biar aku bantu berdiri," ujar Rakha sambil mengulurkan tangannya.
Uluran tangan itu disambut oleh gadis itu.
"Sekali lagi aku minta maaf, ya," ujarnya.
"Iya, tidak apa-apa, Kak," jawab gadis itu.
"Oh iya, Kak, namaku Alin," kata gadis itu sambil mengulurkan tangan. Namun Rakha hanya pergi tanpa menyambutnya.
"Huh, untung ganteng!" gumam gadis itu, merasa kecewa.
"Lo dari mana aja sih, Kha? Lama banget!" tanya Afan.
"Gw telat bangun," jawab Rakha singkat.
"Habis, enggak bisa tidur lagi, lo?" tanya Eby.
"Iya," balas Rakha, tidak ingin berbagi lebih banyak.
Rakha dan ketiga temannya sudah tiba di desa tujuan, desa Harum Bunga. Sesuai namanya, desa ini memang sangat harum, banyak bunga di pinggir jalan, bahkan setiap rumah dihiasi dengan bunga-bunga yang unik.
"Kok lorongnya gelap dan sepi banget, Pak?" tanya Eby pada supir.
"Iya, Dek, lorong ini memang sepi, tapi nanti lihat saja. Adek-adek pasti terpukau sama pemandangan setelah ini," jawab pak supir dengan sabar.
Cahaya mulai nampak dari ujung jalan, dan Eby, Afan, serta Zayyan sangat takjub dengan keindahan desa ini.
"Kha, lo harus lihat ini!" panggil Afan, tetapi Rakha masih terjebak dalam lamunannya.
"Desa ini sama persis dengan desa di dalam mimpiku. Terus lorong sepi dan gelap itu..." Rakha terus mencari-cari, berharap menemukan Mala di kebun bunga.
Di sisi lain, seorang gadis cantik sedang berdiri di kebun bunga milik orang tuanya, memandangi tanaman yang ditanam dua minggu lalu, yang kini sudah mulai tumbuh besar.
"Harus segera bilang sama Ibu, nih, kalau bunga tanamanku sudah tumbuh semua," gumamnya dengan senyuman.
Mobil yang mengantar Rakha dan teman-temannya melewati kebun itu.
"Itu kan kebun..." batin Rakha, kembali menoleh, namun tak ada penghuninya.
"Sini, sini," panggil gadis itu sambil berjongkok. Saat Rakha melihat kebun itu, tepat saat gadis itu menunduk untuk mengangkat seekor kucing yang merengek. Sebagai pencinta kucing, ia mengangkat kucing itu untuk dirawat.
"Akhrinya dapat juga. Kamu jangan takut ya, mulai sekarang aku yang akan merawatmu!" gumamnya.
Saat mobil Rakha dan teman-temannya melaju jauh, gadis itu berdiri menggendong anak kucing itu, pulang dengan penuh kebahagiaan.
Post a Comment for "Di Jodohkan eps 39"