Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Di Jodohkan eps 40

 Mobil yang ditumpangi Rakha dan kawan-kawannya sudah sampai di depan rumah Kepala Desa Harum Bunga. Mereka akan tinggal di sana selama masa pertukaran pelajar berlangsung. Tiba di rumah Kepala Desa pukul satu siang, perjalanan mereka terhambat beberapa kendala, sehingga kedatangan tidak sesuai dengan prediksi.


"Emm, udaranya sejuk banget," ujar Eby sambil merentangkan tangannya.  

"Iya, beruntung banget kita terpilih ke desa ini," timpal Zayyan.  

"Eh, kalian anak kota yang pertukaran pelajar itu kan?" tanya pria paruh baya yang tiba-tiba menghampiri mereka.  

"Iya, Pak. Kalau boleh tahu, ini benar rumahnya Pak Yusuf, Kepala Desa di desa ini?" tanya Rakha.  

"Iya, kebetulan saya sendiri yang bernama Yusuf," jawabnya.  


Mereka pun mencium punggung tangan Pak Yusuf selaku Kepala Desa di sana, setelah itu diajak masuk ke dalam rumah.  

"Ayo, silakan masuk. Pasti kalian capek dari kota," ujarnya.  

"Lumayan sih, Pak," balas Zayyan, disambut tawa dari yang lain.  

"Oh iya, kalian besok sudah mulai masuk sekolahnya, kan?" tanya Pak Yusuf.  

"Iya, Pak. Kalau boleh tahu, sekolahnya jauh enggak dari sini?" tanya Rakha.  

"Enggak terlalu jauh, anak saya juga sekolah di SMA yang kalian bakal datangi," ujar Yusuf.  

"Oh, Bapak punya anak sekolah SMA juga?" tanya Afan.  

"Iya, anak Bapak ada dua; anak pertama SMA kelas 2 dan anak kedua SD kelas 3," ujarnya.  


"Assalamualaikum, Asep pulang!" pekik Asep, anak Kepala Desa.  

"Asep, jangan teriak-teriak. Malu sama tamu!" ujar Yusuf.  

"Iya, maaf. Asep mana tahu kalau ada tamu, Ayah," balasnya.  

"Ya sudah, kamu ajak mereka pergi ke kamar tamu, terus temani mereka jalan-jalan di desa kita," ujar Yusuf.  

"Iya, Ayah. Ayo, kalian ikut aku, dengarkan apa yang dikatakan ayah saya tadi," ajak Asep.  


---


"Ibu..." pekik gadis cantik yang sedang berlari menuju orang tuanya.  

"Naura, jangan lari-lari. Nanti jatuh!" ujar ibunya saat melihat anak gadisnya berlari di tengah sawah.  

"Hehe, maaf, Bu. Naura cuma nggak sabar kasih tahu Ibu kalau bunga yang Naura tanam waktu itu udah tumbuh semua!" ucapnya sambil meloncat-loncat.  


Gadis yang berada di kebun bunga tadi adalah Naura, anak cantik dari Desa Harum Bunga. Ia merupakan anak dari Ustadz Adam dan Ibu Halimah, yang kerap dipanggil Ima.  

"Udah, Naura. Jangan loncat-loncat. Ntar jatuh ke lumpur, nangis lagi," ujar Ima.  

"Eh, mana ada Naura cengeng! Oh iya, Bu, Abah mana?" tanya Naura.  

"Biasa, Nau. Abah di masjid. Kamu mending pulang aja, kamu itu belum sembuh total," jawab Ima, dan Naura pun mengangguk patuh.  


Naura pun pulang ke rumahnya seperti diperintahkan ibunya, namun belum sempat sampai di rumah, ia sudah menyimpang ke tempat lain. Kalau kata Abahnya, Naura itu orangnya nggak bisa diem, selalu ada yang dilakukannya.  

"Hai, Mawar..." sapa Naura.  

"Hai, Nau..." sapa Mawar balik.  

"Kamu tadi kenapa nggak masuk sekolah, Nau?" tanya Mawar.  

"Biasa, War. Kambuh lagi. Tadi sih aku udah pakai seragam sekolah, eh tiba-tiba kepala aku pusing terus pingsan. Tau-tau pas aku bangun udah jam sembilan," ujar Naura.  

"Oh gitu. Nau, sekolah kita bakalan kedatangan anak-anak kota dari pertukaran pelajar itu loh. Ingat nggak yang waktu kepala sekolah bilang itu?" ujar Mawar.  

"Iya, inget. Emang mereka udah pada datang ke kota kita gitu?" tanya Naura.  

"Iya, Nau. Kamu tahu nggak, mereka tinggal di mana?" tanya Mawar, dan Naura menggelengkan kepalanya.  

"Di rumah Asep!" jawab Mawar.  

"Hah, di rumah Asep? Kamu serius, War?"  

"Iya, Nau. Tadi Asep telepon aku, katanya Asep disuruh ayahnya ajak anak-anak kota itu jalan-jalan ke sawah," ujar Mawar.  

"Kita lihat yuk, War. Aku penasaran sama orang-orangnya!" ujar Naura.  

"Ayo, Nau. Aku juga penasaran, ganteng atau enggak!"  

"Eleh, kebiasaan kamu mah."  


Di sisi lain, Rakha dan ketiga sahabatnya sedang berada di tengah sawah, tentunya ditemani Asep, anak Kepala Desa.  

"Wih, bagus banget pemandangannya! Zay, foto-in gue dong," ujar Eby.  

"Ck! Lama-lama lo kayak Vio ya, suka foto-foto," ujar Zayyan kesal.  

"Iya lah, namanya juga suami istri yang kudu sama!" balas Eby dengan suara agak kencang.  

"Istri? Kamu udah punya istri gitu? Kok masih sekolah?" tanya Asep bingung.  

"Ck! Punya mulut nggak bisa direm," gumam Rakha.  

"B-bukan, m-maksud aku itu pacar. Iya, pacar aku. Soalnya aku suka panggil dia istri gitu. Bener nggak, guys?" jawab Eby gugup.  

"Iya, Sep. Lagian, masa bocah ingusan kayak dia ini punya istri?" ejek Afan, membuat Eby geram.  

Bugh!  

"Ups... Nggak sengaja, Fan. Sorry!" ucap Eby dan berlari dari sana.  

"EBY!" pekik Afan.  


---


"Mereka di mana sih, War? Aku capek banget nih," ujar Naura.  

"Tadi katanya mereka pergi ke sawah, tapi kok nggak ada ya?" bingung Mawar sambil melihat-lihat sekeliling.  

"Ya Allah, aku lupa. Ibu kan suruh aku pulang, tapi aku malah berkeliaran di tengah sawah. Mana Ibu masih di situ lagi," batin Naura, saat melihat ibunya memantau orang-orang yang bekerja di sawah.  

"Nau, itu Asep!" ujar Mawar, tetapi Naura tak menjawab.  

"NAURA!" pekik Mawar hingga seluruh orang yang berada di sawah melihat ke arah mereka.  

"Astaghfirullahalazim! War, kamu apa-apaan sih? Pakai teriak-teriak segala!" ujar Naura.  

"Habisnya kamu dipanggil nggak nyaut-nyaut. Aku tadi bilang itu Asep ada di sana sama anak-anak kota itu," ujar Mawar sambil menunjuk ke arah rombongan Asep.  

"Ya sudah, ayo kita samperin sekarang juga sebelum i—"  

"Sebelum apa, hah?" ujar seseorang yang tiba-tiba memotong omongan Naura.  

"Waduh, suaranya kok aku kenal betul!" batin Naura. Ia pun menoleh ke samping.  

"I-ibu!" ucap Naura gugup.  

"Ibu tadi suruh kamu kemana, hmm?" tanya Ima.  

"Pulang istirahat," jawab Naura.  

"Nah, itu tahu. Terus sekarang ngapain kamu di tengah sawah?" tanya Ima lagi.  

"Itu buk... anu... it—"  

"Ayo pulang!" Bu Ima langsung membawa anak gadis nakalnya itu pulang.  

"NAURA!" pekik seseorang yang berlari ke arah tempat mereka berada. Namun karena Naura sudah jauh dari sana, ia pun tak mendengar teriakan itu.  

"Hu hu hu!" napas Asep terengah-engah kala berlari untuk mengejar Naura, tetapi hasilnya nihil. Naura tak mendengarnya.  

"War, kok Naura pulang sih?" tanya Asep.  

"Ibunya ngajakin dia balik buat istirahat, dia kan masih sakit," jawab Mawar.  

"Oh, jadi dia nggak masuk sekolah tadi karena sakit? Bener gitu?"  

"Hmm, iya. Oh iya, Asep, mana teman-teman kota yang tinggal di rumah kamu?" tanya Mawar.  


Baru saja Mawar bertanya, mereka pun tiba di dekat rombongan.  

"Asep, lo ngapain sih lari-lari kayak dikejar anjing aja?" ujar Zayyan.  

"Iya, terserah saya dong mau ke mana. Kalian ngapain ngikutin saya?" ketus Asep.  

"Yah, kan kita nggak tahu jalan di sini, makanya kita ikutin lo," ujar Afan.  

"Lagian, kan Pak Yusuf suruh lo buat temenin kita dan jagain kita selama di sini," ujar Eby.  


Sementara Rakha hanya berdiam diri, memandang seseorang yang jauh di depan mereka saat ini.  

"


Dia..." batin Rakha saat melihat sosok gadis jauh di depannya itu.  


Rakha berlari mengejar gadis yang menurut hatinya adalah Mala, istrinya. Di mana pun Rakha berada, bayang-bayang Mala selalu memenuhi pikirannya.  

"RAKHA, LO MAU KE MANA?"  

"RAKHA, TUNGGU!"  

"RAKHA, INI BUKAN JALAN JAKARTA YANG SETIAP SUDUT LO INGAT!"  


Teriak demi teriakan teman-teman Rakha dilontarkan, tetapi laki-laki itu tak memperdulikannya. Saat ini hanya ada satu yang ada di pikirannya: Mala. Ia terus mengejar seseorang yang mirip dengan Mala itu, entah pergi ke mana. Rakha kehilangan jejaknya.  

"MALA, LO DIMANA!" teriak Rakha.  


Degh!  

"Ayo, Nau, jalan. Ngapain berhenti?" ujar Ima saat melihat anak gadisnya tiba-tiba menghentikan langkah.  

Naura mencari sumber suara yang ia dengar barusan.  

"Buk, Naura denger suara itu lagi, Buk," ujar Naura sambil memegang kepalanya.  

"Aw, s-sakit, Bu!" ucap Naura sambil menarik-narik rambut panjangnya.  

"Jangan digituin, Nau. Nanti tambah sakit," cemas Ima.  

"S-sakit, Buk," lirih Naura sebelum kesadarannya hilang.  

Brukk!  

"NAURA!"

Post a Comment for "Di Jodohkan eps 40"