Di Jodohkan eps 41
Sebuah mobil melaju kencang di jalan raya Jakarta, diiringi rintik hujan yang mengguyur kota. Di persimpangan jalan, seorang remaja menghentikan laju mobil tersebut.
Cittt...
Sopir mobil itu mendadak mengerem.
"Astaghfirullah! Ada apa ini?" tanya laki-laki paruh baya kepada sopir.
"Maaf, ada remaja laki-laki menghalangi jalan," jawab sopir.
"Mas, gimana ini? Jangan-jangan itu perampok," ujar sang istri, Halimah.
Tok! Tok! Tok!
Pintu mobil itu diketuk oleh remaja dengan penampilan acak-acakan.
"Mas, kamu mau ngapain?" tanya Halimah saat melihat suaminya membuka kaca mobil. Namun, tak ada jawaban dari sang suami.
"Kenapa, nak?" tanya Ustadz Adam.
Laki-laki itu melirik Ustadz Adam dan istrinya bergantian, wajah Halimah dipenuhi ketakutan. "Ustadz, boleh saya minta tolong?" tanyanya.
"Minta tolong apa?" jawab Ustadz Adam. "Kalau saya sanggup, insyaallah saya bantu."
"Tolong adik saya, Ustadz. Dia terluka. Tolong bawa dia dan rawat dia, karena kami tidak memiliki keluarga. Ada seseorang ingin membunuh saya, Ustadz," lirihnya.
"Astagfirullah," ucap mereka serempak.
"Mana adik kamu, nak? Biarkan kami bantu," kata Ustadz Adam.
Remaja itu mengangkat tubuh seorang gadis yang terluka di sekujur tubuhnya.
"Ayo, nak, cepat naik!" ajak Ustadz Adam, tetapi remaja itu menolak.
"Ustadz, bawa adik saya saja. Saya masih ada urusan di sini. Bawa dia sejauh mungkin, Ustadz, lindungi dia," ujarnya.
Ustadz Adam setuju, ia dan istrinya membawa gadis itu, yang kemudian mereka beri nama Naura.
"Kehancuranmu segera dimulai, Raden Rakha!" batin Senja.
Ya, laki-laki tadi adalah Senja. Sebelum ia tewas, ia lebih dulu membawa Mala menjauh dari tempat itu, sehingga orang-orang kesulitan menemukan mereka. Senja juga telah memastikan Mala hilang ingatan setelah memukul bagian kepala gadis itu berkali-kali. Ia tak segan-segan ingin menghabisi gadis itu, namun tenaganya sudah tak cukup untuk melakukannya. Ia akhirnya menyeret gadis itu ke pinggir jalan raya dan menghentikan sebuah mobil untuk menitipkan gadis itu.
Jika ditanya mengapa tidak meninggalkan Mala di hutan, jawabannya adalah jika Mala tetap berada di sana, kemungkinan besar Rakha akan menemukannya. Dengan menempatkan Mala di tempat yang jauh dan dalam kondisi hilang ingatan, akan sulit bagi mereka untuk menemukannya. Dan benar saja, hingga sekarang Rakha belum menemukan gadisnya itu, hingga takdir membawanya ke sebuah desa yang selalu muncul dalam mimpinya.
Saat ini, Ustadz Adam sedang merenung di kediamannya, mengingat kembali kejadian tujuh bulan yang lalu saat ia menemukan putrinya. Tiba-tiba, seseorang menghampirinya dan membuyarkan lamunannya.
"USTADZ ADAM..." pekik seseorang dari luar rumah.
Ceklek...
"Ada apa, Cup?" tanya Adam kepada Ucup, pegawai di sawahnya.
"Non Naura, Ustadz... Non Naura..." ujar Ucup dengan napas terengah-engah.
"Kamu atur napas terlebih dahulu, Cup. Setelah itu, jelaskan yang sebenarnya terjadi," ujar Adam.
"Non Naura pingsan di tengah sawah, Ustadz!"
"Astagfirullahalazim! Ayo, Cup, kasih tahu saya di mana tempatnya!"
---
Di tengah sawah, banyak warga berkerumun untuk melihat keadaan anak Ustadz di desa mereka. Rakha dan teman-temannya juga berada di sana, namun banyaknya orang membuat mereka tak bisa melihat gadis yang pingsan tersebut.
Dengan rasa penasaran, Rakha maju melangkah ke kerumunan. Ia sangat ingin melihat gadis anak Ustadz yang pingsan itu.
"Permisi, Pak, Bu, boleh saya lihat?" ujar Rakha sopan.
Perlahan, ia mulai bisa melihat gadis itu. Namun tiba-tiba, tubuhnya ditabrak seseorang, membuatnya ambruk ke tanah.
Brukk!
"RAKHA!" pekik teman-temannya saat melihat itu.
"Kha, lo nggak apa-apa kan?" tanya Afan sambil membantu sahabatnya bangkit.
"Gue nggak apa-apa," jawabnya singkat.
"Lagian, lo ngapain sih nekat nerobos kerumunan itu?" Eby menimpali.
"Gue penasaran sama orang itu," jawab Rakha.
Tiba-tiba, kerumunan itu terbuka. Ternyata, Ustadz Adam datang, dan warga memberikan jalan kepadanya untuk menemui putrinya.
"Kenapa bisa begini, Ima?" tanya Ustadz Adam.
"Nanti saja, Mas. Ima akan jelasin. Yang penting kita harus segera bawa Naura ke rumah bidan," ujarnya. Di Desa Harum Bunga, rumah sakit sangat jauh, namun ada bidan yang siap siaga mengurus warga jika ada yang sakit.
Rakha memicingkan matanya untuk melihat gadis itu, tetapi tak terlihat dengan jelas karena banyak warga yang mengiringi Ustadz Adam.
"Gadis itu siapa sih? Kok warga-warga sepertinya sangat menyayanginya sampai-sampai pekerjaan di sawah mereka ditinggalkan?" tanya Zayyan.
"Iya, dia penting. Anak Pak Ustadz dan calon istri aku," jawab Asep.
"Emang Naura mau sama kamu?" tanya Mawar polos, membuat semua tertawa, kecuali Asep yang memasang wajah masam.
Hari berganti, dan hari ini adalah hari terakhir Rakha dan teman-temannya berada di desa. Besok, mereka harus pulang ke Jakarta. Pagi itu, mereka sudah siap dengan seragam sekolah dan sarapan bersama Kepala Desa di meja makan.
"Pak, hari ini hari terakhir kita di sini. Besok kita sudah harus pulang ke Jakarta," ucap Rakha membuka obrolan.
"Lah, cepet banget. Perasaan baru kemarin kalian datang ke desa ini," ujar Kepala Desa.
"Yah, rumah jadi sepi lagi dong kalau kakak-kakaknya pada balik," ujar Alif, adik Asep.
"Kapan-kapan Alif main ke Jakarta, terus nginep juga di rumah kakak-kakak," ucap Eby.
"Alif pengen sih ke Jakarta. Kata teman-teman Alif, Jakarta kotanya luas dan indah, ya, Kak?" tanya Alif polos.
"Gak juga, kok. Indahan Desa Harum Bunga ini. Tempatnya bersih dan sejuk," jawab Afan.
"Kalian masih mau ngobrol nih? Gue tinggal, ya," ketus Asep.
"Ya Allah, nih bocah nggak pernah baik sama kita," gumam Zayyan, cukup terdengar oleh semua orang.
"Maafin Asep, ya, nak. Asep emang gitu orangnya, judes. Beda sama Alif," ujar Kepala Desa.
"Gak apa-apa, Pak. Asep orangnya baik kok, dia selalu temenin kita ke mana-mana," ucap Rakha.
"Ya sudah, Pak, kami berangkat sekolah dulu, ya!" ucap Afan, dan mereka menyalami punggung tangan kedua suami istri paruh baya itu.
---
"Asep..." panggil Mawar.
"Hmm, kenapa, War?" tanya Asep.
"Gak apa-apa, cuman mau bareng aja ke kelas," jawab Mawar yang sesekali mencuri pandang ke Rakha.
Mereka sudah sampai di ambang pintu masuk kelas, namun lagi-lagi ada yang memanggil Asep.
"Asep... Mawar..." ujar seseorang yang sudah tiba di belakang mereka.
Refleks, mereka semua menoleh ke arah sumber suara. Mereka melihat seorang gadis cantik dengan rambut yang digerai berdiri tepat di depan mereka.
Mata Rakha berkaca-kaca saat melihat gadis di depannya ini.
"Ya Allah, jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku terlebih dahulu. Izinkan aku memeluknya sebentar saja," batin Rakha.
Tes!
Satu tetes air mata menetes dari matanya.
"Kha!" lirih teman-temannya.
Grep!
Rakha langsung memeluk tubuh gadis yang berada di hadapannya itu. Ia sangat merindukan gadisnya.
"Aku kangen, sayang," bisik Rakha tepat di daun telinga gadis itu.
Degh!
Tubuh gadis itu menjadi kaku seketika. Suara itu, suara yang selalu ia dengar dalam mimpinya, kini menjadi nyata.
"Aku sangat merindukanmu, benar-benar merindukanmu," lirih Rakha.
Post a Comment for "Di Jodohkan eps 41"