Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Di Jodohkan eps 42

 Pip!  

Satu tamparan mendarat di pipi kanan Rakha, pelakunya tak lain adalah Naura. "Stttt," desis Rakha merasakan panas di pipinya, sementara teman-temannya terdiam tak percaya. 


"Kamu siapa berani-beraninya peluk aku?! Hiks... Aku bukan cewek murahan yang bisa kamu peluk sembarangan!" ujar Naura dengan air mata yang mengalir di pipinya. 


"Naura, ini aku, Rakha," jawabnya terbata-bata. Ia terkejut, tak menyangka baru saja menemukan istrinya yang hilang selama tujuh bulan, kini harus menghadapi kenyataan bahwa Naura tidak ingat padanya. 


"Enggak! Nama saya Naura, bukan Mala!" tegas Naura. 


"Enggak! Nama kamu itu Mala," desak Rakha mendekati Naura. 


"Jangan mengada-ngada! Nama saya Naura! Lagian saya tidak kenal sama kamu, jadi jangan macam-macam!" ancam Naura. 


"Tapi La, aku ini su-----" 


"Emffff!" mulut Rakha dibekap Afan. Hampir saja Rakha membocorkan status mereka yang selama ini mereka tutupi. 


Naura berlari pergi, diikuti Asep dan Mawar. Beruntung suasana saat itu masih sepi, sehingga tidak ada yang mengetahui kejadian tersebut. 


"Apaan sih, Fan? Kenapa lo bekap mulut gue?" kesal Rakha. 


"Lo ingat, Kha, ini sekolah," jawab Afan. 


"Iya, gue tahu ini sekolah, dan gue enggak peduli! Yang penting Mala ingat sama gue, Fan!" bentak Rakha. 


"Lo jangan bodoh, Begok! Dengan lo jujur begitu, Mala bakal percaya sama lo? Enggak, Rakha! Dia malah makin benci sama lo! Dia pasti mikir lo mau merusak dia dengan membuat berita kalo lo sama dia menikah, padahal kalian masih sekolah," ujar Afan panjang lebar. Ia tak menyangka sahabatnya yang biasanya bijak kini hampir merusak semuanya. 


"Terus, gue harus gimana, Fan? Waktu kita tinggal hari ini doang! Besok kita udah pulang ke Jakarta!" Rakha frustasi memikirkan ini. 


"Tenang, Kha. Kita janji akan bantu lo," ujar Zayyan. 


"Iya, Kha! Kita masih punya waktu! Sepulang sekolah, kita kerumah Naura dan cari tahu bener atau enggak, dia Mala!" sambung Eby. 


"Dia Mala, By! Bukan Naura!" Rakha tak terima penuturan Eby. 


"Iya, gue tahu, Kha! Setidaknya kita pastiin dulu kalo memang itu Mala, kemungkinan dia hilang ingatan. Nah, kita temui aja orang tuanya sekarang, minta penjelasan yang sebenarnya, terus minta tolong mereka buat bujuk Mala," jelas Eby hati-hati. 


Saat ini, Rakha dan teman-temannya sudah pulang dari sekolah. Mereka sedang menyusun strategi untuk meyakinkan Naura bahwa dia adalah Mala. Sejak pulang, Rakha terus mondar-mandir, membuat ketiga temannya pusing melihatnya. 


"Kha, stop! Lo enggak capek mondar-mandir terus?" ujar Afan. 


"Tau nih! Rakha, gw liatnya aja pusing, apalagi dia yang mondar-mandir gitu!" sambung Zayyan. 


"Gue takut, guys! Gimana kalo orang yang menemukan Mala enggak mau jujur? Terus gimana kalo Mala juga enggak mempercayai semua ini? Gimana k----" 


"Ya elah, Kha! Gue baru tahu ternyata lo bawel juga, ya!" ujar Eby sambil terkekeh. 


"Gue lagi enggak bercanda!" ketus Rakha. 


"Iya, gue minta maaf. Ayo, mending kita kerumah Naura, eh, Mala, maksudnya. Mending perginya sekarang aja, tar keburu malam," ujar Eby yang diangguki semuanya. 


"Tunggu, emang lo pada tahu alamatnya?" tanya Afan, yang langsung mendapat gelengan dari ketiga sahabatnya. 


"Yaelah! Terus kita kesana gimana, dong? Tar nyasar lagi!" sambung Afan. 


"Emm, gimana ya?" Setelah berpikir lama, akhirnya mereka menemukan solusi. "ASEP!" pekik mereka. 


Mereka pun berbondong-bondong menghampiri kamar Asep, namun nihil, Asep tak membukakan pintu kamarnya. 


"Asep yang ganteng, plis, la, bantu kita!" rayu Afan. 


"Iya, Asep yang baik! Paling enggak kasih tahu alamatnya aja deh!" sambung Eby. 


"ENGGAK AKAN! MENDING KALIAN CEPET-CEPET PULANG KE JAKARTA AJA! BIKIN ULAH AJA DI SINI!" teriak Asep dari dalam kamarnya. 


"Hufff! Ayo, guys, mending kita pergi aja! Dia enggak bakal kasih tahu kita, percuma kita disini buang-buang waktu!" ujar Rakha sambil pergi dari sana. 


Duduk termenung itulah yang dilakukan empat sejoli itu saat ini. Mereka sudah seribu macam cara merayu remaja laki-laki tengil itu, namun hasilnya nihil. 


"Ih, gemes banget! Gue sama orang itu! Kalo aja ini bukan rumahnya, udah gue bejek-bejek tu muka!" kesal Zayyan. 


"Iya, Zay! Kali ini gue dukung lo. Gue juga pengen bejek-bejek mukanya itu! Tengil banget!" sambung Eby. 


Hening! Mereka kembali terdiam dengan memandangi bunga-bunga yang berada di luar rumah itu. Posisi mereka saat ini berada di teras depan rumah sambil memandangi bunga-bunga yang indah. 


DWARRR!!!  

"Ayam-ayam!" Afan kaget. 


"Hahaha! Kok kakak kagetnya lucu banget!" ujar Alif. 


"Alif, kamu yang nyalain petasan ini?" tanya Rakha. 


"Hehe, iya kak! Maaf ya, soalnya Alif lihat kakak-kakak pada bengok, jadi Alif kagetin aja deh." 


"Lain kali jangan lagi ya, Lif! Kasihan temen-temen kakak punya penyakit jantung!" ujar Rakha sambil terkekeh. 


"Sakit jantung? Siapa kak yang sakit jantung? Alif minta maaf ya, kak!" ujar Alif sendu. 


"Hahaha!" Keempat sejoli itu tertawa terbahak-bahak kala berhasil menipu Alif. 


"Kakak-kakak kenapa ketawa? Alif minta maaf ya!" tanya Alif lagi. 


"Iya, Lif, enggak papa! Lagian enggak ada yang sakit jantung. Kakak cuman bales ngepreng Alif aja!" ujar Rakha sambil mengacak rambut bocah SD itu. 


"Oh iya, kakak-kakak, kenapa tadi pada bengong?" tanya Alif. 


"Hmm, kita tadi minta tolong sama kakak Alif buat anter kita ke rumah Mala," ujar Afan. 


"Mala? Siapa Mala? Kak disini setau Alif enggak ada nama Mala, adanya Mika sama Mila, itu teman-teman Alif semua!" ujar Alif. 


Cletak!  

"Aw! Sakit, Kha!" rengek Afan saat jidatnya dijitak oleh Rakha. 


"Idih, alay! Lo gitu aja sakit!" ujar Eby. 


"Eleh, lo enggak ngerasa ini aja!" 


"Udah stop! Pusing gue!" ketus Zayyan. 


"Maksud kak Afan itu rumah kak Naura, Lif! Alif tau enggak rumah kak Naura?" tanya Rakha. 


"Ok, kak Naura! Kirain siapa, kak Mala itu. Hmm, Alif tau, kak!" jawab Alif. 


"Serius Alif tau?" tanya Rakha lagi. 


"Iya, Alif serius, kak! Kakak-kakak mau Alif anter kesana?" tanya Alif. 


"Emang Alif mau?" tanya Rakha balik. 


"Iya mau lah, kak! Apasih yang enggak buat kakak-kakak ganteng Alif ini!" ujar Alif, yang mampu membuat keempat remaja itu gemas padanya. 


Naura, di sisi lain, sedang merenung di kamarnya. Ibu Naura, Ima, menghampirinya. "Naura! Kenapa dari tadi ngelamun aja?" 


"Emm, enggak papa, Bu," jawabnya. 


"Kamu jangan bohong! Ibu tahu kapan kamu berkata jujur dan enggaknya! Ayo, cepat kasih tahu ibu, kamu kenapa!" ujar Ima lagi. 


"Emm, Naura mau tanya satu hal sama ibu, tapi ibu jawab jujur ya!" Ima mengangguk untuk menyetujui. 


"Apa Naura anak kandung ibu sama ayah? Terus nama Naura teh siapa yang asli, Mala atau Naura, Bu?"


 


Ima terdiam seribu bahasa. Ia tak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Hari ini adalah hari yang selama ini ia takuti. Melihat ibunya tak menjawab, Naura kembali membuka suara. 


"Bu... Ibu denger Naura kan? Jadi nama Naura sebenarnya siapa, Bu? Terus ibu sama ayah orang kandung Naura kan? Semua yang dikatakan anak kota ibu enggak bener, kan, Bu?" tanya Naura, diiringi butiran air bening yang mengalir deras. 


"Hiks... Naura takut, Bu. Naura takut! Naura sayang sama ibu dan ayah!" tangis Naura semakin pecah di dekapan ibunya. 


"Ibu lebih takut, Nau, kehilangan kamu. Ibu enggak bisa bayangin kalo kamu sudah mengingat semuanya," batin Ima. 


Tok!  

Tok!!  

Tok!!!  

"Assalamualaikum, kak Naura!" pekik Alif di luar rumah. 


"Sayang, di depan ada yang teriak-teriak panggil kamu," ujar Ustadz Adam. 


"Biarin aja, Yah! Naura masih mau peluk ibu!" balas Naura. 


"Hmm, enggak boleh gitu dong, sayang. Mungkin itu teman kamu, ada perlu. Cepat gih samperin, nanti setelah selesai, boleh peluk ibu lagi," ujar Ima lembut. 


Clek!  

Pintu rumah itu pun terbuka oleh anak pemilik rumah, yaitu Naura. Sebuah senyuman yang lama telah hilang kini kembali terbit pada bibir salah satu remaja laki-laki di luar ambang pintu. 


"Ma... Naura!" Rakha hampir saja kembali salah sebut nama. 


"Kamu, kenapa lagi mau kesini?" ketus Naura. 


"Aku mau ngobrol sama Ustadz Adam. Ada enggak?" tanya Rakha. 


"Gak ada!" jawab Naura cepat. Namun, sayang, seribu sayang, tiba-tiba Adam menghampiri anak gadisnya itu. 


"Nau, ada apa ini, sayang?" tanya Ustadz Adam. 


"Loh, kok temen-temennya enggak diajak masuk sih?" sambung Adam. 


"Mereka bukan teman Naura, Yah! Lagian Ayah kan bilang sama Naura, enggak boleh ajak laki-laki bukan muhrim masuk ke rumah," ujar Naura dan pergi dari sana sambil menghentak-hentakkan kakinya. 


Rakha terkekeh melihat tingkah Naura seperti itu, semakin meyakinkan dirinya bahwa Naura adalah Mala, karena Mala jika sedang marah atau ngambek pasti akan menghentakkan kakinya. 


"Maafin Naura ya. Kalo boleh, kalian diapa, kok saya enggak pernah lihat," ujar Ustadz Adam. 


"Enggak papa, Stad! Kita berempat anak kota. Kita disini sebagai siswa pertukaran sekolah," jawab Ustadz Adam hanya ber "oh" ria. 


"Kalo boleh tahu, tujuan kalian kesini mau apa?" tanya Ustadz. 


"Hmm, saya mau ngobrol sama Ustadz. Ada yang mau saya tanyakan," ujar Rakha. 


"Yaudah, ayo kita masuk saja, ngobrolnya," ujar Ustadz Adam. Rakha pun ikut masuk, sementara ketiga sahabatnya menunggu di luar. 


"Naura! Bikinin minum buat temennya!" pekik Ima. 


"Iya, Bu," jawabnya dengan ketus. 


"Jadi enggak enak nih, Bu, ngerepotin," ujar Rakha. 


"Udah, enggak papa! Lagian, Naura hanya rebahan aja di kamar," ujar Ima. 


"Oh iya, Nak! Apa yang ingin kamu tanyakan tadi?" tanya Ustadz. 


"Hmm, gini, Stad! Tujuan saya kesini cuman mau tanya, apakah Naura itu anak kandung Ustadz?" tanya Rakha. 


Deg!  

Bagai disambar petir di siang bolong, Ima, selaku ibu dari Naura, kembali deg-degan mendengar pertanyaan seperti ini. Baru saja Naura bertanya semacam itu, sekarang ada orang asing yang kembali bertanya seperti itu. 


"Iya, Naura anak kandung kami," bukan Ustadz Adam yang menjawab, melainkan Ima, istrinya. 


"Kalo boleh tahu, kenapa Nak Rakha tanya seperti itu?" tanya Ustadz Adam. 


Rakha pun menceritakan insiden yang menimpanya tujuh bulan yang lalu, di mana ia harus kehilangan istrinya. Awalnya, Ustadz Adam dan istrinya terkejut mendengar penuturan Rakha yang mengatakan bahwa ia adalah suami dari Naura. Namun, Rakha menjelaskan bahwa mereka dijodohkan, dan bahkan bukan hanya mereka, tetapi ketiga sahabatnya di luar juga dijodohkan. 


"Jadi, kamu keluarganya Naura?" tanya Ustadz Adam. 


"Iya, Stad! Tapi dugaan saya salah. Ternyata Naura bukan Mala. Saya minta maaf sudah lancang, kalo gitu saya permisi, Stad," ujar Rakha, yang ingin beranjak dari sana. 


"Tunggu, Nak Rakha! Naura bukan anak kandung kami. Tepat tujuh bulan yang lalu, saya menemukannya pada saat itu ada remaja laki-laki yang mengaku bahwa ia saudara dari Naura. Dia menyuruh kami membawa Naura jauh, karena katanya mereka akan dibunuh!" Ustadz Adam menceritakan awal mula ia menemukan Naura. 


"Kurang aja, Senja!" batin Rakha. 


Di sisi lain, teman-teman Rakha sudah bosan menunggu Rakha. Sejak dua jam yang lalu, namun tak ada wujud bocah itu muncul dari ambang pintu. 


"Ck! Ngapain aja sih Rakha? Lama banget!" kesal Zayyan. 


"Gue curiga dia lagi makan-makan nih!" sambung Eby. 


"Mungkin Rakha masih menjelaskan semuanya. Jangan berpikir buruk dulu, tar dosa lo!" ujar Afan. 


"Wah, sejak kapan Afan, seorang pendosa akut, mendadak sok alim gini?" ujar Zayyan. 


Bugh!  

"Aw! Sakit, Fan!" 


"Siapa suruh ledekin gue!" 


"Ih, enggak asyik ah, lo mah. By, mending kita cari angin aja ya, sebelum gue di tonjok lagi!" ujar Zayyan. 


"Yaudah, ayo! Fan, lo enggak mau ikut?" tanya Eby, namun Afan hanya menggelengkan kepalanya. 


"Yaudah, kalo gitu kita cabut. Kalo Rakha udah keluar, lo tinggal telpon aja," sambung Eby. 


"Ck! Iya, iyah! Bawel banget sih, cepet gih pergi!" kesal Afan kepada kedua temannya. 


Sudah 15 menit lamanya teman-teman Afan pergi, dan Rakha tak kunjung keluar. Afan mulai jenuh, ia pun memutuskan untuk berkeliling sebentar. Saat ia keliling, ia melihat Alif yang masih bermain sama teman-temannya. Iya, Alif tadi sempat pamit untuk bermain sama teman-temannya yang rumahnya di sebelah rumah Naura. 


"Kak Afan, mau kemana?" pekik Alif. 


"Keliling-keliling aja, Lif! Cari angin!" balas Afan. 


Setelah sedikit mengobrol dengan bocah SD itu, Afan melanjutkan jalannya lagi. Namun langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang tak asing baginya. 


"Dia?"

Post a Comment for "Di Jodohkan eps 42"