Di Jodohkan eps 43
Takdir mempersatukan kita, namun takdir juga lah yang memisahkan kita. Akankah kita bisa bahagia bersama?
Seorang gadis berjalan mengelilingi desa harum bunga, kebetulan di sini adalah tempat ia dilahirkan. Namun langkah gadis itu terhenti kala ada seseorang yang mengikutinya.
"ALEA!" pekik orang itu.
Gadis itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
"A-afan," lirihnya.
"Kamu ke mana aja sih, Lea? Kamu tahu nggak aku khawatir sama kamu," ujar Afan sambil memeluk gadis yang bernama Alea itu.
Alea mendorong tubuh Afan. "Jangan gini, Fan. Nggak enak dilihat orang," ujarnya.
"Aku kangen banget sama kamu, Lea. Kamu ke mana aja selama satu tahun ini menghilang?" tanya Afan.
"Maaf, Fan, tapi hubungan kita aku anggap sudah selesai satu tahun yang lalu."
Bagaikan disambar petir di siang bolong, hati Afan benar-benar sakit mendengar penuturan dari gadis tersebut.
"Kenapa? Kenapa, Lea? Bukankah kita saling mencintai? Dan berjanji untuk selalu bersama?" Ujar Afan sambil memegang kedua pundak gadis itu.
"G-gw nggak pernah cinta sama lo. Gw nyesel kenal sama lo, Fan. Gw nyesel..." pekik Lea dan berlari dari hadapan Afan.
Di lain sisi, tepatnya di kota Jakarta, Devi sedang memasak makanan bersama kedua sahabatnya untuk menu makan mereka nanti malam.
"Kalo ada Mala, pasti dia yang masakin kita makanan enak-enak," ujar Vio.
"Iya, kita nggak bakal disuruhnya nyentuh bahan-bahan masakan," sambung Haura.
"Iya, Vi. Hau, gw juga kangen banget sama masakan Mala. Dia itu tomboy tapi jago masak. Gw beruntung banget sahabatan sama Mala," ujar Devi.
"Ah, jadi sedih lagi kan?" Mereka bertiga pun berpelukan untuk menyemangati satu sama lain.
Prang!
"Astagfirullah, bunyi apaan tuh, Dev?" tanya Vio.
"Gw nggak tahu, Vi," balasnya.
"Mending kita cek aja," timpal Haura.
"Tapi gimana kalo itu kunti bogel?" ujar Vio.
Pletak!
"Aw! Sakit, Hau!" ujar Vio sambil mengusap pelipisnya.
"Astagfirullah!" Devi terkejut.
"Ada apa, Dev?" Haura dan Vio berlari mendekat ke arah Devi.
"Itu, Hau, Vi, foto pernikahan gw sama Afan jatuh. Mana bingkai kacanya pecah pula," ujar Devi sambil menunjukkan pecahan-pecahan kaca itu.
"Hati-hati, Dev—"
"Aw." Belum selesai Haura berbicara, Devi sudah terluka terkena pecahan kaca tersebut.
"Ya Allah, Dev! Kan udah aku bilang hati-hati. Kan jadi luka gini, mana darahnya banyak lagi!" omel Haura.
"Maaf, Hau. Gw tadi udah hati-hati. Nasib sial aja nih."
"Tapi kok bisa jatuh ya foto itu? Padahal nggak ada angin," ujar Vio.
"Iya juga ya? Apa jangan-jangan..."
Prang!
Semua yang berada di ruang tamu itu terkejut mendengar suara pecahan tersebut. Atensi mata mereka menatap ke arah belakang, terdapat gadis cantik yang berdiri tegap dengan tatapan kosong.
"N-naura," lirih Ima.
"J-jadi ayah sama ibu bukan orang tua kandung Naura? Katakan, Bu, Yah, orang ini berbohong, kan? Ayah, Ibu, jawab Naura!" pekik Naura.
"Iya," jawab Adam.
"Laki-laki ini suamimu, Nak. Dia mencarimu selama tujuh bulan ini dan takdir membawanya ke sini. Dia suamimu," ujar Adam.
"Enggak! Ayah bohong, kan? Mana mungkin Naura sudah menikah. Naura masih sekolah, Yah. Naura bukan anak yang nggak bener, kan, Yah?" ujar Naura.
"Enggak, sayang. Kamu anak baik-baik," jawab Adam dengan cepat.
"Terus kenapa Ayah bilang dia suami Naura sedangkan Naura masih sekolah? Atau Naura berbuat zina, Yah? Hiks... hiks... Naura enggak ingat, ya? Naura nggak murahan!" tangis Naura pecah.
Ima memeluk putrinya itu. "Ibu percayakan sama Naura. Nggak berzina, Naura belum menikah, Ibu. Dia pasti bohong. Dia mau fitnah Naura, Ibu."
"Astagfirullahalazim. Nggak boleh gitu, Nak. Dia suamimu," ujar Adam.
"Hiks... Ayah lebih percaya sama dia. Ayah nggak percaya sama Naura. Dia bohong, Yah. Dia cowok brengsek, cowok yang suka main-mainin perempuan!"
Hati Rakha terasa perih saat kata-kata pedas itu keluar dari mulut istrinya. Rakha masih memaklumi hal tersebut. Dia tahu bahwa istrinya sedang hilang ingatan.
"Aku nggak bohong, La. Ini bukti-bukti kalau kamu itu memang benar istriku."
Rakha memberikan buku nikah mereka berdua dan memperlihatkan foto-foto mereka saat menikah. Namun Mala masih tak mempercayai itu semua.
"Bisa aja itu editan," ketus Mala.
"Ya Allah, kamu butuh bukti apa lagi, La?" ujar Rakha frustrasi.
"Naura sayang, menikah muda itu nggak semua dilandasi karena kesalahan yang seperti kamu pikirkan itu. Ayah sudah mendengar ceritanya dari Nak Rakha. Kalian dijodohkan karena orang tua kalian sudah sepakat dan tentunya itu akan menjauhkan kalian dari perbuatan zina," ujar Ustadz Adam.
Ini sudah menjelang Maghrib, Adam mengajak Rakha untuk salat berjamaah di rumahnya. Rakha sempat ingin mengajak ketiga sahabatnya, namun ketiga curut itu tak menampakkan wujudnya.
Saat ini Rakha menelpon kedua orang tua Mala, yang tak lain mertuanya sendiri. Lina dan suaminya sangat bahagia saat mengetahui putri semata wayang mereka masih hidup. Mereka pun akan pulang ke Jakarta besok pagi karena saat ini mereka ada di London.
"Ustadz, Tante, Rakha pamit ya. Besok pagi Rakha jemput Mala di sini," ujar Rakha. Walaupun Mala masih tak mengingat semuanya, Rakha tetap akan membawa gadisnya itu kembali ke Jakarta.
"Iya, Nak," jawab mereka, sedangkan Mala memasang wajah masamnya.
"Kenapa rasanya aku ingin selalu bersamanya ya? Apa benar dia suamiku?" batin Mala.
"Ra, aku pamit ya. Besok pagi aku jemput. Kita pulang ke Jakarta," ujar Rakha sambil membelai surai panjang milik istrinya itu.
"Hmmm," jawab Mala.
Saat ini Rakha dan teman-temannya sudah berada di kamar mereka, berbaring melepas penat.
Drett...
Bunyi telepon terdengar jelas di telinga mereka.
"Ck! Zay, hp lo tuh dari tadi bunyi terus. Cepat gih angkat. Ganggu aja!" ketus Eby.
"Iya-iya. Gw angkat nih." Zayyan pergi menjauh dari sana saat mengetahui nama yang tertera di layar hp-nya itu.
π......."Hallo sayang, kenapa? Kangen ya?" ujar Zayyan.
π......"Assalamualaikum." Ujar Haura di seberang sana.
π......."Hehe, waalaikumsalam. Maaf, yang lupa."
π......"Udah ah, aku nggak mau banyak basa-basi. Afan mana?" tanya Haura to the point.
π........"Kenapa cari Afan? Suami kamu kan aku, bukan dia."
π........"Ck! Devi mau ngomong. Tadi Devi telepon, nomornya nggak aktif." Haura benar-benar dibuat kesal oleh suaminya itu. Ya, walaupun ia sebenarnya sangat merindu laki-laki itu.
π......."Kam----" Zayyan menghentikan omongannya kala mendengar pemilik suara itu telah berubah.
π........"Zay, mana Afannya?" Kali ini suara itu bukan lagi milik istrinya, melainkan sahabatnya, Devi.
"Ck! Belum juga kangen-kangenan," gumam Zayyan.
"Kenapa, tuh muka lo, Zay? Kusut amat. Bukannya habis kangen-kangenan?" tanya Eby.
"Ck! Jangan banyak tanya. Nih, Fan, istri lo mau ngomong," Zayyan menyodorkan benda pipinya itu kepada Afan.
Afan menjauh dari sana untuk mengobrol dengan istrinya itu.
π....."Hallo, Beb,
kamu ke mana aja sih? Kok nggak ngabarin aku? Kamu nggak macam-macam, kan di sana?" ujar Devi di seberang sana.
π......"Salam dulu, Beb. Jangan langsung ngomel gini," ujar Afan sambil terkekeh.
π....."Hehe, maaf, Beb. Abisnya kamu sih nggak ngabarin aku seharian ini."
π......"Maaf ya. Oh iya, Beb, ini udah malam. Besok kan aku pulang. Nanti aja aku jelasin ya."
Sebelum sambungan telepon itu terputus, Devi meminta Afan bernyanyi untuk menghiburnya yang lagi bad mood. Devi juga tak menceritakan kejadian tadi sore di mana tangannya terluka karena pecahan kaca bingkai foto mereka.
"Kita pamit, Ustadz!" ujar Rakha sambil menyalimi punggung tangan Ustadz Adam.
Sekarang Rakha beralih menyalimi punggung tangan Ima. "Saya pamit, Ta—"
"Ibu. Panggil saya Ibu seperti Naura, eh, Mala maksud saya," ujar Ima agak kikuk.
Rakha tersenyum mendengar penuturan Ima tersebut. "Rakha pamit, Bu. Kapan-kapan Rakha akan ajak Mala sering-sering berkunjung ke sini," ujar Rakha.
Ima tersenyum mendengar itu semua. "Rumah ini akan selalu terbuka untuk kalian," ujarnya.
"Aaaa, Ibu, Naura pasti kangen Ibu." Mala memeluk tubuh ibunya itu sangat erat.
"Kamu jangan nakal ya di sana. Jangan nyusahin Nak Rakha, harus nurut," ujar Ima.
"Iya, iya. Naura bakal nurut."
"Satu lagi, nama kamu Mala, bukan Naura, sayang," ujar Ima.
"Iya, Ibu ku sayang. Kenapa sih mau Mala kek Naura kek, sama aja kedua nama itu untuk orang yang sama," ujar Mala.
Saat ini mobil yang akan mengantar mereka ke Jakarta sudah tiba. Di depan rumah Ustadz Adam, banyak warga yang mengantar keberangkatan mereka. Bahkan teman-teman Mala selama di desa ini pun ikut serta menghantarnya.
"Nauraaaaaaa!" pekik Mawar.
Mala menoleh ke sumber suara, tampak Mawar berlari menghampirinya dan memeluknya. "Hiks... kamu beneran mau pulang ke Jakarta, Nau? Aku nggak ada teman lagi kalau kamu pergi. Hiks..." Mawar benar-benar sedih ketika mendapat kabar bahwa sahabatnya itu akan kembali ke Jakarta.
"Sttt! Jangan nangis, War. Tar Asep nggak jadi suka sama lo," bisik Mala.
"Ihh, Naura! Aku kan lagi sedih, kok kamu malah bercandain aku sih?" kesal Mawar.
Mala terkekeh mendengarnya. "Maaf, aku harus pulang. Keluargaku menunggu di Jakarta. Kapan-kapan kamu main ke Jakarta, nginep di rumah aku."
"Lagikan kata kamu mau kuliah di Jakarta, nah bisa tuh tinggal di rumah aku aja sekalian," sambung Mala.
"Tapi kamu nggak lupain aku, kan, Nau?"
Mala pun menggeleng cepat. "Nggak akan," jawabnya.
"Ehemmm," ujar Rakha sambil menunjuk jam tangannya. Mala, yang paham akan maksud Rakha itu, hanya bisa berdecak kesal.
Mala dan rombongannya pun sudah berpamitan ke semua orang. Mobil yang mereka tumpangi sudah menancapkan gasnya. Namun belum jauh dari sana, sudah ada yang mencegat mereka.
"Woy, mau cari mati lo!" pekik Zayyan.
"Zayyan!" tegur Rakha.
"Maaf, abisnya tuh orang main cegat-cΓ©get aja."
Dari segerombolan remaja yang mencegat jalan mereka itu, muncul seorang remaja yang tak asing bagi mereka...
"Asep!"
Post a Comment for "Di Jodohkan eps 43"