Di Jodohkan eps 44
Aku masih menyukainya, tapi dia menyukai masa lalunya, apalah kita orang baru yang muncul di kehidupannya.
___S.Devi___
👻
Selamat datang di Jakarta! Setelah beberapa bulan menghilang, akhirnya Mala kembali lagi ke kota kelahirannya. Mobil yang mengantarnya berhenti di kediaman Rakha. Saat turun dari mobil, Mala langsung diserobot oleh teman-temannya dan orang tuanya.
"Aaaaaa, Mala! Kangen banget!" Devi memeluk Mala sangat erat hingga sang empu kehabisan napas.
"Uhukk... Uhukk..."
Grep!
Rakha langsung menarik tubuh istrinya itu dalam dekapannya. "Lo mau bunuh istri gue, ya?"
"Hah? Bunuh? Apaan sih, Kha, gue tuh kangen sama Mala!" ketus Devi.
"Ya jangan gitu juga kali, masa dia lo peluk sampai sesak napas gitu."
"Udah-udah, kok pada ribut di luar. Ayo masuk!" ujar Anggun, mamanya Rakha.
Saat ini, mereka semua berada di ruang tamu sambil bercerita tentang kejadian-kejadian di desa Harum Bunga. Tiba-tiba, raut wajah Rakha berubah.
"Kamu kenapa, Kha? Kok mukanya ditekuk gitu?" tanya sang mama.
"Ga ada," ketusnya dan pergi dari sana.
"Rakha, kenapa ya? Ada yang tahu? Biasanya tuh anak kalau ada masalah atau cemburu emang gitu suka diem," ujar Anggun.
Semuanya menggeleng kecuali Afan. "Gue tahu!"
Semua mata melirik ke arah Afan. "Kenapa?" tanya mereka kompak.
"Jadi..."
**Flashback On**
"Asep."
"Mau apa lo? Kok hadang jalan kita?" ujar Eby.
"Bukannya lo seneng ya kalau kita pulang ke Jakarta?" ketus Zayyan.
"Oh, gue tahu, guys. Pasti dia sedih kita pulang, terus dia mau salam perpisahan!" Afan ikut membuka suara.
Asep terkekeh mendengarnya. "Ya, aku emang mau kalian semua pergi dari desa ini, tapi tidak mengajak gadis desa kami."
"Gadis desa?"
"Iya, gadis desa kami. Naura!"
Afan dan kawan-kawannya terkekeh mendengar penuturan Asep tersebut. "Gadis desa kalian? Jangan mimpi! Ini Mala anak kota Jakarta!" ujar Zayyan mengejek, ia memang sudah geram dengan bocah di depannya ini sejak ia numpang tinggal di rumahnya.
"Kalian pasti mengada-ngada, Naura anak Ustadz Adam," ujar Asep.
"Bukan, dia anak kandung Tante Lina dan Om Ali, dan namanya Mala," Rakha angkat bicara.
"Wih, pawangnya udah muncul nih," bisik Eby kepada dua sahabatnya itu.
"Dia Mala, istri gue!" ujar Rakha dengan tegas.
"Istri?" Asep syok mendengarnya, namun ia masih tak percaya.
"Jangan ngehalu ketinggian," ujarnya.
"Yah, haha, dia bilang Rakha ngehalu, lo yang ngehalu buat jadi pacar Mala," ujar Zayyan.
Lalu, Zayyan merogoh benda pipinya yang berada di saku celananya. "Nih, lihat foto siapa." Zayyan memperlihatkan foto pernikahan Mala dan Rakha.
Asep tak bergeming; yang ia lihat itu memang benar Mala dan Rakha, foto dengan baju pengantin dan memegang buku nikah. "Maaf," lirihnya.
Rakha menepuk punggung Asep. "Ga pp, kita yang minta maaf selama ini ngerepotin lo selama di desa."
"Mereka ngapain sih lama banget?" ujar Mala yang masih berada di dalam mobil.
Mala keluar dari mobil dan menghampiri segerombolan orang-orang itu. "Kalian ngapain sih lama banget?"
"Naura!" panggil Asep.
"Asep, jadi lo yang ngehadang jalan kita?" tanya Mala.
"Aku cuma mau kasih ini, Nau, buat kenang-kenangan," Asep menyodorkan sebuah gelang.
"Buat aku?" tanya Mala, Asep menganggukkan kepalanya.
"Mak—" Mala berhenti berbicara saat melihat gelang yang diberikan Asep kepadanya itu ditepis oleh Rakha.
"Lo, ya s—" tunjuk Rakha kepada Asep.
"Rakha, kamu apaan sih, main buang-buang pemberian orang aja?" ujar Mala.
Mala mengambil gelang yang ditepis oleh Rakha itu. Rakha yang melihat itu sangat marah, namun ia tahan. Ia pergi dari sana kembali masuk ke dalam mobil.
"Maafin Rakha, ya, Sep. Btw, makasih ya gelangnya," ujar Mala.
"Waduh, bakal perang dunia kedua nih," bisik Eby kepada Afan.
"Woy, pada mau balik nggak? Atau gue tinggal, nih?" pekik Rakha di dalam mobil.
**Flashback Off**
💤
Mala menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya menyusul suaminya, Rakha. Namun, karena ia masih belum mengingat semuanya, ketiga sahabatnya itu yang menghantarnya ke sana.
"Cepet, Mal, masuk gih, samperin Rakhanya," ujar Devi sambil mendorong tubuh Mala.
"Eh, bentar dulu, gue masih ragu. Emang tuh orang bener suami g-gue?" tanya Mala.
Sontak ketiga sahabatnya kompak menepuk jidatnya. "Astaga, Basmalah! Ternyata lo memang amnesia, ya. Gue kira cuman prank kita aja," ujar Vio.
"Vio, mending lo brobat deh," ujar Devi.
"Jadi gimana nih, kok kalian pada ribut?" ujar Mala.
"Kita nggak bohong, lah! Lo emang istri Rakha. Mending lo cepet masuk!" ujar Haura; yah, di antara Devi dan Vio, Haura lah yang waras, hihi.
Mala melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar itu. Ia melirik sekeliling. Tepat di dinding atas ranjangnya, ada foto pernikahan mereka yang terpajang sangat besar.
"Dia di mana?" Mala kembali melirik-lirik sekitar guna mencari sosok laki-laki yang berstatus suaminya itu.
Pandangan mata Mala terhenti di balkon kamar; ia melihat sosok laki-laki yang berstatus suaminya itu sedang membelakanginya sambil memegang pembatas besi balkon itu.
Tap!
Tap!!
Tap!!!
"Ngapain kamu ke sini, la?"
Degh!
"Kok kamu tahu ini aku?" ujar Mala.
Rakha membalikkan badannya; ia tersenyum kecut ke arah Mala. "Apa yang nggak aku tahu tentang kamu?" ujarnya setelah itu ia kembali membelakangi Mala.
Hening!
"Maaf," ujar Mala membuka suara dan memecahkan keheningan itu.
"Untuk?"
"Buat kamu marah karena aku nerima gelang pemberian dari Asep." ujar Mala.
Rakha menghela napas kasar dan menangkup wajah Mala. "Aku nggak marah sama kamu."
Grep!
Rakha membawa Mala ke dalam pelukannya. "Aku rindu, lah! Aku rindu sama kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu lagi," ujar Rakha.
Mala masih tak dapat mengingat, namun ia terharu melihat laki-laki yang sedang memeluknya ini. Secinta itukah dia padaku? Setulus itukah cintanya padaku?
"Tujuh bulan, lah! Tujuh bulan orang-orang menganggap kamu udah nggak ada, tapi aku yakin kamu masih ada. Aku hancur, lah! Hancur ketika bunga-bunga itu dihamburkan di tepi jurang itu, dan mereka semua sholat mengatasnamakan kamu," gumam Rakha yang masih dapat didengar Mala.
Tubuh Rakha bergetar hebat, Mala dapat merasakan itu. Bahkan cairan bening itu sudah terjun dari pelopak mata laki-laki itu, Mala pun dapat merasakannya.
"Hei, jangan nangis lagi. Aku di sini," ujar Mala sambil menghapus air mata dari mata suaminya itu.
Rakha kembali memeluk Mala; kali ini pelukannya semakin erat. Ia rasa selalu ingin begitu, ia takut Mala jauh darinya lagi.
"Bantu aku, ya."
"Untuk?"
"Mengingat semuanya!" ujar Mala. Rakha tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Tap!
Tap!!
Tap!!!
Langkah pasutri yang baru bertemu setelah terpisah tujuh bulan itu kian mengalihkan pandangan semua orang yang berada di meja makan. Senyum keduanya terpancar.
"Wih, abis ngapain kalian? Kek bahagian banget!" celetuk Zayyan.
"Kepo lo!" ketus Rakha.
"Yeh, ketus banget lo, Kha."
"Oke, baiklah. Sebelum makan, Mama mau kasih kabar bahagia
, nih," ujar Anggun.
"Kabar bahagia apa, Ma?" tanya Devi.
"Sebentar lagi kita semua bakal ngerayain pernikahan Mala dan Rakha, yaitu tujuh bulan setelah mereka menikah!" ujar Anggun disambut teriakan serentak dari semuanya.
"Yeaaah!"
Mala menatap Rakha, saat ini ia dapat melihat aura cinta yang begitu menggebu dalam diri suaminya. Malam ini adalah malam yang akan selalu diingatnya, malam kebahagiaan yang seakan membuktikan bahwa ia masih ada dalam hidupnya.
Post a Comment for "Di Jodohkan eps 44"