Di Jodohkan eps 45
"Mala, hei sayang, bertahan ya kita ke rumah sakit," ujar Rakha sambil mengangkat kepala istrinya dan meletakkannya di pahanya.
"S-sakit, Kha!" lirih Mala.
"Kita ke rumah sakit, ya? Kamu harus bertahan," Rakha berusaha mengangkat tubuh istrinya.
Mala tersenyum getir, kepalanya menggeleng pelan, lalu air matanya menetes. "S-sakit banget, Kha. Aku nggak k-kuat."
"Enggak, kamu pasti bisa. Jangan tinggalin aku untuk kedua kalinya, sayang..." Rakha tak memperdulikan banyak orang yang memandangnya, ia benar-benar takut kehilangan untuk kedua kalinya.
"M-maaf!" Setelah mengucapkannya, mata cantik dan indah milik gadisnya itu tertutup rapat.
"Enggak, enggak! Ayo bangun. Kita pulang, kita... kita tidur di rumah, jangan di sini."
"Hei sayang, kamu denger aku kan?" Rakha sambil menepuk-nepuk pipi istrinya pelan.
Di sisi lain, Afan terdiam membeku, memandangi keadaan ini. "Ini semua salah gue," gumamnya.
"FAN! OY, AFAN, CEPETAN TOLONGIN DEVI!" pekik Eby saat melihat sahabatnya hanya diam mematung.
Perlahan tapi pasti, Afan melangkahkan kakinya dan mengangkat tubuh gadis itu, yang tak lain adalah istrinya. Dengan tangan bergetar, ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Devi.
Darah? Benar-benar banyak darah di jalanan itu. "Beb, ayo bangun," ujar Afan dengan bibir yang bergetar hebat.
"Aku, aku telat, ya?"
"Beb, kamu mau apa? Aku bakal turutin, tapi kamu bangun ya? Kamu mau hukum aku? Mau marah, pukul aku, atau apapun, aku bakal turutin, tapi plis bangun, maaf..." Sama halnya dengan Rakha, Afan pun terisak dengan tangisannya.
Terjadi kecelakaan mobil yang menabrak pembatas jalan hingga menewaskan Mala demi menyelamatkan sahabatnya. Kecelakaan itu melibatkan truk dan mobil, dengan mobil yang rusak parah, diduga melibatkan tujuh korban, termasuk sopir, yang ditemukan tewas, begitu pun dengan Mala, yang ditemukan tak bernyawa. Sementara itu, sahabat yang diselamatkannya mengalami luka-luka serius di sekujur tubuhnya.
Miris! Sebuah mobil menabrak seorang gadis remaja hingga terseret beberapa meter demi menyelamatkan sahabatnya. Hari ini, semua saluran TV menayangkan berita yang sama, di mana seorang gadis mengorbankan nyawanya demi sahabatnya.
---
"Bapak, Ibu..." Dokter itu terdiam sesaat, lalu menggelengkan kepalanya. "Kami sudah melakukan yang terbaik."
Degh!
Rakha terdiam membeku. Apa-apaan ini? Bukannya membawa berita yang ia harapkan, dokter itu justru menyampaikan berita yang tak ingin ia dengar.
"Nggak mungkin, Dokter. Tolong selamatkan anak saya sekali lagi... sekali lagi, Dokter," ucap Lina, mamanya Mala, terbata-bata akibat isak tangis yang tak terbendung.
"Tidak bisa, Buk. Mala sudah meninggal di tempat. Saat sudah dilarikan ke rumah sakit ini, nyawanya sudah tidak ada lagi."
Degh!
"DOKTER, JANGAN ASAL OMONG! ISTRI SAYA MASIH HIDUP, DIA TADI NGOBROL SAMA SAYA. CEPET, DOKTER, TOLONG, SELAMATKAN DIA!" pekik Rakha.
Anggun, selaku ibu Rakha, membawa putranya itu ke dalam dekapannya. Ia sangat sedih melihat putra semata wayangnya ini kembali kehilangan, baru beberapa minggu bertemu dan sekarang mereka harus dipisahkan lagi oleh semesta.
"Ma, Mala... Mala tinggalin Rakha lagi," lirihnya.
AGHHHHHHH!!
"Kembalikan istriku!" Tangis Rakha pecah saat menerima kenyataan bahwa istrinya tak dapat diselamatkan.
"Kumohon, kembalikan istriku!"
"Istriku! Aghhh!"
Sementara itu, di luar ruangan, Devi dirawat, dan Afan serta keluarganya sangat khawatir karena dokter belum juga keluar dari ruangan itu.
"Afan, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Salma, selaku ibu kandungnya.
Afan tak menjawab pertanyaan-pertanyaan dari orang tuanya, ia terdiam membisu dengan tatapan kosong.
Bugh!
Satu tonjokkan dilayangkan oleh Rakha kepada Afan. "Ada apa ini, Rakha? Kenapa kamu tendang Afan?" tanya Fatir.
Rakha tak menjawab sama sekali, ia seperti kesetanan, terus membabi buta Afan hingga babak belur.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"RAKHA! Stop! Apa yang kamu lakukan?" pekik Anggun (mamanya).
"Gara-gara dia, Ma! Gara-gara dia, aku harus kehilangan istriku!" pekik Rakha.
Degh!
"Apa yang kamu maksud, Rakha? Kalian ini sahabat, jangan berkelahi gini," tanya Fatir.
"Kalo saja Afan nggak bego dengan ngejar-ngejar Lea tadi di kafe dan nggak bertengkar dengan Devi, pasti Mala saat ini baik-baik aja, Om. Saya nggak bakal lakukan ini sama Afan!" ujar Rakha dengan isak tangisnya.
"Bener itu, Fan? JAWAB MAMA!" pekik Salma.
"Iya, Ma. Ini salah Afan, gara-gara Afan, Mala sama Devi terbaring di rumah sakit ini," ujar Afan sambil menundukkan kepalanya.
Bugh!
"Papa kecewa sama kamu!" ujar Fatir.
Rakha terkekeh mendengar penuturan dari mulut Afan. "Lo enak, Fan. Devi masih bisa berjuang di dalam sana. Sedangkan Mala... sedangkan Mala udah dinyatakan meninggal di tempat." lirih Rakha dengan diiringi butiran bening yang menetes.
Degh!
Bagaikan disambar petir di siang bolong, mereka yang berada di luar ruang rawat Devi sungguh terkejut mendengar penuturan dari laki-laki yang berstatus suami Mala itu.
"Meninggal?"
"Mala meninggal, Fan! Mala tinggalin gue gara-gara LO! GUE BENCI LO, FAN! GUE BENCI!" pekik Rakha di depan muka Afan.
"Mohon maaf, tolong jangan ada keributan di sini!" ujar satpam.
Rakha dibawa pergi oleh Zayyan dan Eby, sementara Afan tubuhnya merosot ke lantai.
"Mama nggak nyangka kamu begini, Fan. Kamu tahu saya tampar anak saya di depan orang-orang saat tahu anak saya berpacaran, dan sekarang ternyata kamu masih memiliki rasa dengan mantan kekasihmu itu, sedangkan pernikahan kalian sudah menginjak satu tahun," ujar Ana (mama Devi).
"Maaf, Ma!" lirih Afan.
"Pergi kamu dari sini," ujar Ana.
"Enggak, Ma! Afan mau tungguin Devi sampai siuman," ujar Afan.
"SAYA BILANG PERGI, PERGI!" pekik Ana.
"Salma, bawa anak kalian pergi dari sini sebelum papa Devi tiba dan menghajar habis dia," ujar Ana.
"Tapi, Na, kita juga mau tungguin Devi siuman," ujar Salma.
"Devi nggak butuh kalian, mending kalian pergi saja dari sini," tegas Ana.
"Sal, Fan, ayo kita pulang. Beri waktu mereka." ujar Fatir.
"Kita pulang, Na. Kalau ada apa-apa dengan Devi, tolong kabari kita," ujar Salma, namun tak mendapatkan respon dari sang empuh.
---
Saat ini, Rakha masuk ke ruang Mala dengan mata sembab dan memerah. Teman-teman dan orang tua mereka di luar memberi waktu Rakha berdamai dengan keadaan.
"La, kamu serius mau ninggalin aku? Kenapa kamu jahat sama aku, La? Kenapa kamu buat aku jatuh cinta secinta-cintanya sama kamu, kalau kamu secepat ini ninggalin aku?" lirih Rakha.
"Banyak lo impian kita yang belum terwujud."
"Kalo kamu capek, tidur aja. Tapi bangun, jangan kayak gini, sayang. Kamu tahu nggak apa yang aku rasakan saat ini? Sakit, La. Sakit dua kali kamu tinggalin aku."
**Flashback On**
"La!"
"Hmm, kenapa?"
"Kalo kita punya anak nanti, mau kasih nama siapa, ya?" ujar Rakha.
Bugh!
"Aw, sakit, La!" rengek Rakha.
"Salah sendiri, pemikirannya jauh banget. Aku nggak mau ya putus sekolah gara-gara hamil," ketus Mala.
"Yah, aku kan cuman ngehayal aja suatu saat nanti. Maksud aku itu
bukan sekarang," ujar Rakha.
"Yah, ngomong dong dari tadi."
"Dari tadi aku udah ngomong, Mal. Kamu aja fokus nonton drakor mulu."
"Hehe, maaf. Seru! Soalnya rombongan Devi udah pada nonton drakor, tinggal aku aja yang belum." jelas Mala.
"Hmm, jadi apa?"
"Apa?"
"Yang tadi!"
"Yang mana?"
"Saya yang tadi!"
"Huff, jadi kalo kita ada anak nanti, siapa namanya?" tanya Rakha.
"Hmm, Bara aja!"
"Hah, Bara?"
"Iya, Basmalah Rakha. Sebenernya aku sama rombongan Devi pernah cari nama anak," ujar Mala.
"Nama anak?"
"Iya, persiapan. Haha, kalo Devi katanya, kalo ada anak cowok namanya Defan (Devi Afan). Keren nggak?" ujar Mala.
"Keren sih, tapi lebih keren Bara!" ujar Rakha.
"Kalo Bara, mah jangan dibilang paling keren. Tapi, kalo menurut kita, kalo menurut Afan sama Devi beda lagi, haha."
**Flashback Off**
Senyum Rakha kembali terbit di belahan bibirnya saat mengingat momen itu.
"Kumohon, sayang, bangun. Aku nggak bisa tanpa kamu," lirih Rakha.
---
"Aghhh, enggak! Enggak! Devi nggak mau buta, Ma. Nggak mau!" pekik Devi menggema di ruangan bernuansa putih-putih itu.
Yah, tadi dokter yang menangani Devi mengatakan bahwa Devi buta akibat percikan kaca yang mengenai matanya.
Kecelakaan mobil beruntun itu mengakibatkan banyak pecahan-pecahan kaca dari mobil dan mengenai mata Devi pada saat itu, dan fatalnya, Devi kehilangan penglihatannya.
"Gelap, Ma! Hiks... Devi mau lihat, Ma," lirih Devi dengan terisak.
"Sabar ya. Mama sama Papa akan lakukan yang terbaik buat kamu sembuh lagi," ujar Ana sambil mengelus surai panjang anaknya itu.
Post a Comment for "Di Jodohkan eps 45"