Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Di Jodohkan eps 46

 Satu minggu telah berlalu, hari ini Rakha pergi ke pemakaman istrinya yang tercinta, Mala, yang telah meninggalkannya sejak seminggu yang lalu. Dengan setangkai bunga mawar merah di tangan, ia melangkah memasuki TPU. Setiap langkah terasa berat saat ia duduk termenung, memandang batu nisan yang bertuliskan Basmalah binti Ali. 


Butiran air mata tak tertahan jatuh dari pelupuk matanya. Pahitnya kenyataan berpisah untuk kedua kalinya dengan orang yang sangat ia cintai mengoyak hati. Begitu banyak harapan yang terpendam bersamanya. 


"Kamu jahat, La!" teriak Rakha sambil mengepal gundukan tanah di depannya. "Kenapa kamu tinggalkan aku sendiri di sini? Kenapa kamu tidak ajak aku sekalian, La? Aku tidak bisa hidup tanpa kamu!" Isak tangisnya semakin menggema di antara derai hujan yang tiba-tiba turun, seolah alam turut merasakan kehancuran yang ia alami.


Tak ada sedikit pun keinginan untuk pergi dari tempat itu. Ia masih setia memandangi nisan istrinya yang tercinta. 


"Rakha!" 


Deng! 


Rakha menoleh ke arah sumber suara, matanya berbinar saat melihat sosok yang memanggilnya. "Mala!" 


Ia memeluk tubuh istrinya itu dengan sangat erat. "Katakan ini hanya mimpi, La. Katakanlah!" lirih Rakha, penuh harap.


"Rakha, lepas! Aku harus pergi!" Mala menjawab tegas.


"Enggak!" 


"Kita beda, Rakha. Kita tidak bisa bersatu lagi." 


"Enggak, Mala! Aku tidak mau pisah dari kamu!" Isak Rakha.


"Aku harus pergi!" Mala melepaskan pelukan Rakha. 


"Enggak, Mala, enggak!" pekik Rakha, berusaha mempertahankan.


Ia memegang erat tangan istrinya, namun perlahan-lahan tangan itu pun terlepas. "MALA...!" teriaknya, memanggil namanya.


"Rakha.... Kha, hei, bangun!" Anggun menepuk-nepuk pipi putranya yang terbangun dengan mengigau menyebut nama istrinya. 


"Mala! Ma, di mana Mala, Ma? Mala masih hidup kan?" Pertanyaannya beruntun saat ia tersadar.


"Kalau ngomong yang bener-bener aja! Mala masih hidup, tapi masih belum sadar aja dari komanya," jawab Anggun.


Rakha menghela napas lega mendengar penuturan ibunya. "Makanya, kalau tidur itu baca doa," sambung Anggun.


"Iya, iya, Rakha lupa. Rakha juga tidak tahu kok bisa ketiduran begini," ujar Rakha.


"Mungkin kamu capek jagain Mala seharian," Anggun menanggapi, menggoda.


Rakha memandang sendu ke arah brankar di mana wanita yang sangat ia cintai, Basmalah, terbaring. 


**Flashback On** 


"Enggak, Sus! Dok, jangan bawa istri saya! Dia masih hidup, Dok!" 


"Kamu yang sabar, Mas. Pasien atas nama Mala sudah pergi dari sebelum Mas bawa ke rumah sakit ini," ujar suster dengan nada menenangkan.


"Enggak! Dia masih hidup! Kalian semua bohong!" pekik Rakha, tak terima.


Kedua suster hendak mendorong brankar dan membawa Mala ke ruang jenazah, tetapi Rakha tidak mengizinkannya. "JANGAN BAWA ISTRI SAYA! DIA MASIH HIDUP!" pekiknya di depan wajah kedua suster itu.


"PERGI!" 


Kedua suster itu tampak tertegun, takut menghadapi wajah Rakha yang penuh amarah. 


"Sus, kita keluar. Berikan waktu buat dia berdamai dengan keadaan," dokter yang menangani Mala akhirnya memutuskan. 


Setelah suster dan dokter pergi, Rakha tinggal sendiri, menatap lekat wajah pucat istrinya. "Kamu dengarkan, La. Aku marah saat mereka ingin membawamu pergi dariku." 


"Kembali lah sayang, aku merindukanmu. Peluk aku. Banyak impian-impian yang belum kita capai bersama," ujarnya penuh harap.


Butiran bening kembali mengalir dari pelupuk matanya, menyentuh wajah pucat Mala. Perlahan, jari-jemari Mala bergerak satu per satu. Rakha merasakan gerakan itu karena saat ini ia sedang menggenggam erat tangan istrinya. 


"Mala, kamu masih hidup kan sayang? Aku tidak halu kan?" 


Rakha berlari keluar ruangan, memanggil dokter. Dokter itu awalnya tidak percaya, tetapi setelah memeriksanya sendiri, ia terkejut menemukan bahwa gadis itu masih hidup meskipun detak jantungnya lemah.


"Gimana, Dok, keadaan istri saya?" tanya Rakha.


Dokter itu tersenyum. "Ini benar-benar mukjizat. Istri Anda selamat, namun masih dalam keadaan koma," jelas dokter itu.


Rakha sedikit bernafas lega. Setidaknya ia masih memiliki harapan untuk bersama lagi dengan istrinya.


**Flashback Off**


Senyum di bibir Devi mengembang saat hari yang ia nantikan selama satu minggu ini tiba. Walau ia tidak tahu siapa yang berkenan mendonorkan mata untuknya, orang itu sangat baik hati hingga tidak ingin namanya diketahui.


"Selamat, Dev! Operasi mata lo berjalan lancar!" ujar Vio.


"Iya, Dev. Sekarang kita bisa kumpul kayak dulu lagi," sambung Haura.


Devi tersenyum memandang teman-temannya, tetapi senyumnya segera menghilang. "Mala di mana?" tanyanya.


Haura dan yang lain terdiam membisu, mereka sengaja tidak memberi tahu keadaan Mala saat ini kepada Devi agar ia fokus pada kesembuhannya. "Mala mana?" tanya Devi lagi saat tidak ada yang menjawab.


"Itu, Dev, anu itu," ujar Vio gugup.


"Gue tanya Mala di mana!" pekiknya.


"Mala koma, Dev!" 


Deng! 


"Anter gue ke ruang Mala. Sekarang!" tegas Devi.


"Tap—"


"Anter atau gue sendiri yang pergi!" potong Devi saat Haura hendak angkat bicara.


**Sleep**


"Devi, kamu sudah bisa lihat, sayang," ucap Lina dan Anggun bersamaan.


"Iya, Tante. Tadi pagi operasi Devi dipangsungkan," jawab Devi.


"Maaf ya, Tante, tidak menjenguk kamu selama dirawat, padahal ruangnya tidak terlalu jauh," ujar Lina.


"Gak pp, Tan. Devi ngerti kok. Malahan Devi yang tidak enak karena gara-gara nyelamatin Devi, Mala masuk rumah sakit juga," ungkap Devi, menundukkan kepalanya.


"Hei, jangan sedih. Ini semua tidak baik untuk kesehatan matamu. Kan baru selesai operasi," ujar Lina, menyeka air mata Devi.


Di sisi lain, segerombolan laki-laki bertopeng memasuki kamar seorang remaja laki-laki yang sedang terlelap tidur.


Prang!


"Mama?" tanyanya.


"Mama, itu Mama kan?" Dengan merabah-rabah, remaja laki-laki itu bangkit dari tidurnya.


"Hallo, buta!" 


Deng! 


"S-siapa kalian? Kalian mau apa?" tanyanya dengan bibir bergetar.


"Uluh, uluh, kasihan banget sih, jagoan sekarang tidak bisa ngapa-ngapain karena BUTA," ejek pria bertopeng itu, menekankan kata akhir kalimatnya.


"Cepat bawa dia dari sini!" perintah si ketua kepada anak buahnya.


"Siap, bos."


"Enggak, jangan bawa saya! Kalian siapa?" 


Laki-laki itu dibawa entah ke mana, merasa nyawanya akan melayang saat ini juga. "Maafkan aku semua!" batinnya diiringi butiran air bening.


Bugh!


Bugh!!


Bugk!!!


"K-kalian mau apa sebenarnya? Kenapa kalian siksa gue?" tanyanya dengan suara lemah, tubuhnya sudah tak kuat menahan siksaan dari segerombolan orang itu.


"Lo tanya mau gue apa, hah? Mau gue lo mati dan sahabat sialan lo itu yang harus menanggung semuanya!" teriak si ketua bertopeng.


"Siapa?" 


"Rakha!" jawab orang itu lantang. 


Deng! 


"R-rakha?" 


"Iya, Rakha. Saya benci dia karena kebahagiaan keluarga saya hancur gara-garanya!" pekiknya menggema di ruangan itu.


"Tapi kenapa lo lampiasin sama gue? Gue tidak kenal sama lo!" tegasnya.


"Karna lo itu sahabat baiknya, dan karena lo juga ikut campur dalam masalah gue. Lo bantu dia hingga gue jatuh ke jurang," pekik pria bertopeng itu.


"S-senja?"


"Hahaha! Lo baru tahu ini gue. Ups, LO KAN BUTA!" 


"Kok lo masih hidup? Bukannya wak—"


"Kalian, saya yang buta waktu itu. Jelas-jelas gue masih bernapas. Cuman ya akting gue waktu itu gak bisa diragukan sih, bahkan polisi aja bisa gue kelabui, apalagi manusia bodoh kayak kalian ini!" ucapnya.


"Sialan, lo yah. Tunggu


 saya, Rakha pasti akan hajar habis lo."


"Hahaha! Bukan kah Rakha benci lo, Afan? Dan lo gak dianggep sebagai sahabat lagi oleh dia. Jadi bagaimana bisa lo yakin dia nyelamatin lo dan ngehajar gue?" ujar Senja, mengejek.


Deng! 


Benar apa yang barusan Senja katakan. Rakha tak akan menolongnya setelah apa yang dialami istrinya, pikir Afan. Namun, apakah ia tidak bisa berharap bahwa sahabatnya itu lah yang akan menolongnya?


"Hajar dia sampai pingsan, tapi jangan sampai mati, soalnya besok gue juga mau hajar dia. Gue cabut!" perintah Senja.


"Baik, bos!" 


Bugh!


Bugh!!


"Sttt!" desis Afan.


Bruk! 


"Gantian, goblok! Gue juga mau hajar dia!" 


Ctar! 


Bugh! 


"Devi, maafkan gue!" lirih Afan sebelum kesadarannya menghilang.


**Sleep**


Di bawah pohon rindang, seorang gadis cantik sedang memandang langit biru, dengan hembusan angin membuat suasana itu terasa sejuk. 


"Lo masih belum mau pulang? Kasihan semua orang menunggu mu," kata Afan, menoleh ke arah gadis itu.


"A-Afan!" 


Afan tersenyum getir menanggapinya. "Kenapa lo juga berada di sini, Fan? Lo baik-baik saja kan?" 


"Dia kembali, La. Dia akan melenyapkan gue dan orang terdekat suami lo. Dendam yang ada dalam dirinya itu terlalu besar hingga membuatnya buta akan belas kasihan." 


Mala mengerutkan jidatnya, tidak mengerti. "Maksud lo?" 


"Senja masih hidup, La! Lo harus segera bangun dan katakan kepada Rakha harus berhati-hati!" ucap Afan.


Mala menatap ke depan. "Gue mau di sini aja, Fan. Tempatnya enak," jawab Mala dengan senyum.


Sedangkan di rumah sakit, Rakha dibuat cemas saat alat EKG berbunyi nyaring. Garis? Garis yang selama ini ditakutkan oleh Rakha kini muncul, alat EKG itu menunjukkan garis lurus.


"Enggak! Ini gue mimpi lagi kan? Tolong bangunin gue, tolong!" pekik Rakha.


Semua yang berada di luar ruangan Mala berlari masuk mendengar jeritan Rakha. Mata mereka membulat saat melihat alat EKG bergaris lurus.


"Dokter, panggil dokter!" lirih Rakha.


Zayyan berlari keluar memanggil dokter. Semua keluar saat dokter datang untuk memeriksanya.


"Apakah di sini ada yang bernama Afan?" tanya dokter saat keluar ruangan.


Semua menggeleng. "Saya suaminya, Dok!" ujar Rakha.


"Apakah Anda bernama Afan?" tanya dokter itu, Rakha menggeleng pelan.


"Pasien terus memanggil orang yang bernama Afan. Sebaiknya hubungi dia, karena bisa jadi kesembuhannya akan semakin cepat jika ada orang itu," jelas dokter.


Deng! 


"Apa gue gak ada di hati lo, La, sampai-sampai lo memanggil nama laki-laki lain dalam alam sadar lo?" batin Rakha.


Anggun yang tahu anaknya itu sedang berpikir yang enggak-enggak akhirnya menenangkannya. "Jangan dipikirin, mending kamu masuk temani Mala," bisik Anggun sambil mengelus punggung anak laki-lakinya itu.


Rakha menganggukkan kepalanya pelan dan berlalu dari sana. "Cepat bangun ya, Can—"


"AFAN!" pekik Mala, tiba-tiba matanya terbuka lebar.


"La, kamu sudah sadar, sayang!" Rakha hendak memeluk istrinya, tetapi niatnya terhenti saat Mala menyebut nama laki-laki yang dibencinya selama satu minggu ini.


"Afan mana, Kha? Afan di mana? Gue mau ketemu sama dia!" Ujar Mala.


Rakha terdiam, semenit kemudian ia angkat bicara, "Suami lo itu aku, La! Kenapa lo cari dia?" 


Mala melirik sekitar, mendapati semua orang sedang mendengarkan obrolan mereka. "Devi!" panggilnya.


Devi merasa tidak enak hati karena ketahuan menguping, dengan sedikit rasa tegang ia mendekat dibrankar sahabatnya. "Kenapa? Maaf ya, La, kita—"


"Gak pp! Gue cuman mau tanya, Afan di mana?" potong Mala saat Devi hendak meminta maaf.


"Gue tidak tahu, La! Buat apa gue ngurusin orang yang buat hidup kita begini? Buat sakit hati aja!" Ujar Devi.


Rakha tidak habis pikir dengan sikap istrinya yang terus-menerus menanyakan Afan. Afan, Afan, Afan—apa dia lupa bahwa Afan itu bukan suaminya? 


"Afan dalam bahaya, Dev!" 


Deng! 


"Afan terluka! Dia butuh bantuan kita!" sambung Mala.


Devi menatap Mala, mencari kebohongan di matanya, namun tidak ada. "Lo serius, Mal?" tanya Devi. Mala menganggukkan kepalanya.


"Kita cari Afan, Dev. Kasihan dia!" ujar Mala.


"Tapi lo masih sakit, La! Lo baru sadar!" ujar Devi.


"Gue gak pp. Ayo kita pergi!" ajak Mala.


"Gue sebagai suami lo tidak izinkan lo pergi! Lo baru sadar, La!" tegas Rakha, memegang kedua bahu Mala.


Mala menepis tangan Rakha. "Jangan gini, Kha! Afan butuh kita. Ayo la!" 


"Dia bukan sahabat gue dan tidak akan pernah jadi sahabat gue lagi!" tegaskan Rakha.


"Serah! Gue tetap mau cari dia!" balas Mala.


"Lo pergi dari ruangan ini, jangan harap lo akan ketemu gue lagi!" ucap Rakha, tegas.


Deng! 


Mala terdiam, membeku dengan ancaman itu. Namun, nyawa dalam bahaya membuatnya berpikir sejenak dan kembali melangkahkan kakinya. Mereka berdua sama-sama keras kepala, tidak ada yang mau mengalah di antara mereka.


"Oke, kalau itu mau lo," ucap Rakha, ikut pergi dari sana, tetapi bukan menuju arah yang sama—melainkan ke arah berlawanan.

Post a Comment for "Di Jodohkan eps 46"