Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Di Jodohkan eps 47

 Mala dan teman-temannya sudah berada di lokasi yang mereka yakini sebagai tempat di mana Afan disekap. Dengan hati-hati, mereka memasuki gubuk di tengah hutan itu. Afan ditahan di tempat yang sama seperti saat Mala dulu, dan Senja sengaja memilih lokasi ini karena sudah ada rencana yang disiapkan—tempat ini jauh dari pemukiman warga.


"Mal, lo yakin Afan disekap di sini?" tanya Betrand.


"Iya, gue yakin. Afan sendiri yang kasih tahu gue," jawab Mala.


"Tapi kan lo waktu itu dibawa dalam keadaan tak sadar, Mal. Emang bisa dipercaya? Bisa aja lo cuma halusinasi," Vio meragukan.


"Jadi kalian nggak percaya sama gue?" tanya Mala dengan nada ketus.


"Bukan gitu—" Rey mencoba meredakan.


"Udah, kita udah terlanjur di sini. Tinggal beberapa langkah lagi, kenapa jadi ribut sih?" potong Rey, dan semua terdiam mendengarkan.


"Eh, lihat itu! Ada teman-teman Senja!" seru Eby.


"Iya, berarti benar Afan ada di dalam. Ayo kita kesana sekarang!" Devi sudah tak sabar.


"Eh, tunggu, Dev. Jangan gegabah. Ntar nyawa Afan dalam bahaya," Zayyan memperingatkan.


"Iya, Dev, lo nggak boleh gegabah gini," Haura menambahkan.


"Tapi gue takut Afan kenapa-napa," tangis Devi.


"Lah, malah nangis nih bocah!" ejek Eby.


Di sisi lain, keadaan Afan semakin memburuk. Nafasnya terengah-engah karena dari saat diculik, ia tak diberi minum atau makan. Orang-orang itu menganiayanya tanpa ampun, tubuhnya penuh dengan lebam, dan sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah segar.


“WOY, BANGUN! JANGAN TIDUR AJA!” pekik salah satu teman Senja, sambil menyiram tubuh Afan dengan air hangat.


“AGHHHHH! P-PANAS!” jerit Afan.


“Afan, itu Afan teriak! Ayo kita selamatkan Afan sekarang!” tangis Devi semakin pecah saat mendengar jeritan suaminya.


“Kurang ajar, mereka ngapain Afan?” geram Eby.


“Kita nggak boleh tinggal diam. Kita harus segera ke sana!” timpal Zayyan.


“Kalian cewek-cewek disini aja. Biarkan kita yang masuk,” ucap Betrand.


“Tapi—”


“Demi keamanan, tolong dengerin gue sekali ini saja,” potong Betrand saat Mala ingin angkat bicara.


Mala menghela napas kasar. “Yaudah, kalau ada apa-apa, jangan lupa kabarin kita, ya!” ujarnya, yang direspons anggukan dari keempat pria itu.


Di sisi lain, Senja menantikan saat untuk menyakiti Afan lebih jauh. “Gimana, masih yakin sahabat lo itu mau bantu lo?” tanya Senja sambil mengedipkan mata.


“WOY, JAWAB KALO GUE TANYA!” teriak Senja tepat di wajah Afan, yang sudah tak memiliki tenaga lagi untuk berbicara. Ia sangat lemah, tak kuat menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya akibat air panas yang mereka siramkan tadi.


“Cambuk dia!” teriak Senja.


Afan menggelengkan kepalanya pelan. 


“Hahaha, kenapa lo takut dicambuk? Lemah,” ejek Senja.


“CEPET, CAMBUK DIA SEKARANG!” teriaknya.


CTAR!


“Stttt!” desis Afan saat satu cambukan itu mengenai tubuhnya yang lemah.


CTAR!


“Dev, maafin aku ya!” lirih Afan sebelum kesadarannya hilang.


“STOP!” pekik rombongan Eby saat melihat tubuh sahabatnya tergeletak tak berdaya.


“Kurang ajar, kalian bisa-bisanya nyiksa orang yang sudah lemah!” geram Rey.


Bugh! Bugh! 


Aksi pukul-memukul antara mereka pun terjadi. Walaupun anggota Senja lebih banyak, rombongan Eby tak menyerah; mereka mengerahkan seluruh kekuatan untuk mengalahkan kelompok Senja.


Senja, yang tidak ikut terlibat, mengambil benda dari dalam tas ranselnya dan memasang benda itu di dinding gubuk. “Mati kalian semua!” batinnya sambil tersenyum jahat.


Mala dan dua sahabatnya panik saat Devi nekat masuk ke gubuk itu. “Sekarang gimana, La? Devi udah masuk ke sana!” tanya Haura.


“Gak ada pilihan lain, kita ikut masuk,” jawab Mala.


“Tapi g-gue takut, guys. Gimana kalau Senja itu tangkap kita dan bunuh kita?” Vio tampak cemas.


“Udah, lo tenang aja. Gue sama Haura janji bakal jagain lo,” janjinya.


Sementara itu, Rakha berada di sebuah danau, meluapkan seluruh emosinya. “AGHHH! KENAPA SEMUANYA JADI GINI SIH?” pekiknya.


“Mala, lo kenapa sih lebih mementingkan orang lain dibanding suami sendiri?!” teriaknya lagi.


Tiba-tiba, satu notifikasi dari nomor tak dikenal masuk. 


💬

+62××××××××××: Cepat kesini kalau mau istri lo dan sahabat-sahabatnya selamat.


Rakha mengepalkan tangannya saat membaca isi pesan itu. “Senja!”


Dengan cepat, Rakha melajukan motornya, menembus hutan menuju lokasi yang dikirimkan. Tak lama kemudian, ia sampai di tempat itu. 


BRAK!


“Mala, tolong—” Mala tak dapat menyelesaikan kalimatnya karena mulutnya sudah disumpal kain.


“Lepasin istri gue!” tegas Rakha.


Prok! Prok! Prok!


Senja mendekat, bertepuk tangan. “Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.”


“Lepasin mereka!”


“Lepasin mereka? Hah, rugi dong!”


“Lepasin, atau nyawa lo melayang!”


“Hahaha, nyawa gue melayang? Lo nggak inget nyawa gue pernah melayang dan sekarang lihat gue berdiri tegap di hadapan kalian?” cemooh Senja.


Rakha memberi kode kepada Rey dan yang lain untuk membawa Afan pergi dan menyelamatkan cewek-cewek. 


BUGH!


Senja terpental saat Rakha tiba-tiba menendangnya dari belakang. 


“Kurang aja!” geram Senja, melirik dinding tempat ia memasang bom, sementara waktu tinggal lima menit sebelum bom itu meledak. Rakha mengikuti arah pandang Senja ke sudut dinding, menyadari satu buah bom di sudut kiri.


“Zayyan, bawa cewek-cewek segera keluar dari sini!” pekik Rakha.


“Enggak, aku mau sama kamu, Kha!” Mala berlari kecil ke arah suaminya.


Rakha mendorong tubuh Mala menjauh. “CEPET, BAWAH, MALA! KELUAR!”


Mala menggeleng. “GAK ADA WAKTU LAGI, CEPAT PERGI!”


“CEPAT, PERGI!” Rakha berteriak lagi.


Akhirnya, mereka semua menuruti perintah Rakha, meskipun tidak mengerti apa yang terjadi.


“Tiga...!!!”


“Dua...!!!”


“Satu...!!!”


DHUM! Ledakan besar terjadi di dalam gubuk tersebut. Semua mata terbelalak, terkejut oleh ledakan yang menghancurkan gubuk itu.


Mala terdiam dengan tatapan kosong, tubuhnya merosot ke bawah. “R-rakha!” lirihnya.


Gubuk yang semula berdiri kokoh kini hancur berkeping-keping. “Jadi ini alasan Rakha nyuruh kita semua keluar dari gubuk itu,” gumam Eby dengan mata berkaca-kaca.


“Lo pergi dari ruangan ini, jangan harap lo akan ketemu gue lagi!” kata Rakha.


“Hiks... jadi ini yang lo katakan tadi, Kha. Tapi kenapa lo tega tinggalin gue, hiks!” Mala memeluk kedua lututnya, menangis sejadi-jadinya. Semua teman-temannya ikut merasakan kesedihan itu.


“Kalian kenapa nangis?” Suara familiar membuat mereka terdiam.


“Rakha!”


“Gue tanya kalian kenapa nangis? Hmm,” ujar Rakha.


“Lo kok bisa hidup? Bukannya lo tadi di dalam sana?” tanya Rey.


“Panjang ceritanya. Lain kali gue ceritain, tapi nggak sekarang,” jawab Rakha, matanya tertuju pada istrinya yang masih terisak.


“Kalian semuannya bawa Afan ke rumah sakit. Biarkan Mala sama gue,” ujar Rakha.


“Iya, Kha. Lo nyusul ke rumah sakit juga kan?” tanya Eby, Rakha menganggukkan kepalanya.


“Hiks... Rakha, jangan tinggalin aku hiks. Aku nggak bisa hidup sendirian, hiks!” Mala masih terisak.


“Sayang!” panggil Rakha lembut.

Post a Comment for "Di Jodohkan eps 47"