Di Jodohkan eps 48
"Gimana, dok, dengan keadaan istri saya?" tanya Rakha penuh harap.
"Alhamdulillah, keadaannya semakin membaik. Besok juga sudah boleh pulang," jawab dokter.
"Alhamdulillah, makasih, dok!" balas Rakha, merasa lega.
Di sisi lain, di luar ruang rawat Afan, suasana cemas menyelimuti teman-teman yang menunggu. Sudah satu jam berlalu, namun dokter yang menangani Afan belum juga muncul dari balik pintu.
"Ck! Kok lama banget sih dokter meriksanya? Atau jangan-jangan dia ketiduran lagi?" ujar Zayyan dengan nada skeptis.
Plak!
"Kebiasaan, kalau ngomong tidak pernah difilter dulu," ketus Haura.
"Ih, sakit sayang!" lirih Zayyan sambil mengusap pipinya.
Ceklek.
Pintu ruangan IGD terbuka, dan seorang dokter berseragam putih muncul. "Gimana, dok, keadaan suami saya?" tanya Devi dengan nada cemas.
Dokter terdiam sejenak, melirik gadis yang mengaku sebagai istri Afan. Ia sedikit terkejut melihat wajahnya yang begitu muda, seperti masih belasan tahun. Namun, itu bukan urusannya untuk bertanya lebih lanjut.
"Gimana, dok, keadaan suami saya?" Devi bertanya lagi ketika dokter tidak menjawab.
"Kondisinya sangat melemah. Kita lihat selama 24 jam ke depan. Jika ia belum siuman, maka dengan berat hati saya harus sampaikan bahwa Afan dinyatakan koma. Mungkin dalam jangka waktu yang lama," ujar dokter dengan nada serius.
Deg!
"Koma dalam jangka lama?" tanya Devi, terkejut.
"Iya, mungkin berbulan-bulan, bahkan ada yang bertahun-tahun." Setelah menyampaikan berita itu, dokter pun pergi.
"Hiks... Afan!" tangis Devi tak tertahan.
"Mending kita sholat sama-sama yuk, doakan untuk kesadaran Afan," saran Eby, dan semua pun setuju.
Di ruangan Mala, Rakha sedang menyuapi bubur kepada istrinya yang baru siuman.
"Aaaaa... buka mulutnya, sayang!" tuturnya lembut.
Mala menggeleng. "Gak enak, Kha!"
"Ga boleh gitu, harus dimakan. Cepat buka mulutnya," ulang Rakha, berusaha membujuk.
Mala tetap menggeleng, dan Rakha pasrah. "Yaudah, kamu mau apa? Hmm," tanya Rakha.
"Seblak yang pedas!" jawab Mala, penuh semangat.
Kini giliran Rakha yang menggelengkan kepalanya. "Kamu baru sembuh, sayang. Masak langsung makan gituan?"
"Ya udah ak-"
Ceklek.
Pintu ruang Mala terbuka, menginterupsi pembicaraan mereka.
"Devi?"
"Hiks... hiks... Mala, tolong," ujar Devi sambil terisak.
"Lo tenang dulu, Dev. Lo mau minta tolong apa?" tanya Mala, mencoba menenangkan.
"Tolong bujuk suami lo buat temui Afan."
Deg!
Wajah Rakha seketika berubah. Setelah mereka menunaikan sholat, Afan juga sudah siuman, tetapi sangat disayangkan, ia tidak dapat melihat orang-orang di sekelilingnya.
Devi yang awalnya syok mendengar bahwa Afan adalah donor matanya kini berusaha mendesak Rakha untuk menemui Afan. Namun, Rakha menolak dengan tegas.
"Gue mohon, Kha, temui Afan!" ucap Devi, memelas.
"Gak bisa. Gue mau jaga Mala," jawab Rakha.
Mala memandang suaminya, bertanya-tanya apakah ia masih marah kepada Afan. Banyak hal mengganggu pikirannya.
"Gue mohon, Kha, sekali ini aja. Plis!" desak Devi lagi.
"Gak bisa!" tegas Rakha.
"Yaudah, kalau gitu maaf mengganggu," ucap Devi, sebelum beranjak pergi.
Mala memandangi punggung Devi yang menghilang, lalu mengalihkan pandangannya kepada Rakha. "Kenapa kamu liatin aku gitu?" tanyanya, merasa heran.
"Kamu masih marah sama Afan?" tanya Rakha.
Rakha menatap istrinya dalam-dalam, lalu menangkup wajah Mala. "Gimana gak marah, coba? Gara-gara kecerobohan yang dia lakukan, aku hampir kehilangan bidadariku ini!"
Blush!
Pipi Mala seketika memerah. Tak bisa ia pungkiri, ia merasa salah tingkah dibuat oleh suaminya. "Gombal!"
"Aku serius, sayang!"
"Udah ah, ayo kita ke ruang Afan, kita jenguk dia," ujar Mala, berusaha meredakan suasana.
"Gak, kamu masih belum pulih, sayang," tolak Rakha lembut.
"Aku sudah sehat, Kha. Gini aja, kalau kamu mau ke ruang Afan, aku mau makan bubur itu," jawab Mala sambil menunjuk bubur di nakas.
Rakha terdiam, berpikir sejenak. "Yaudah, aku gak bakal mau makan," tegas Mala.
"Huff, yaudah ayo, tapi kamu janji ya mau makan?" tanya Rakha.
"Iya, aku janji!"
💤
"Rakha-nya mana, Dev?" tanya teman-teman Afan yang menunggu.
Devi menggeleng pelan. "Rakha masih marah ya sama aku," ujar Afan dengan suara sendu.
Devi mendekat ke brankar suaminya. "Enggak kok, Rakha udah maafin kamu. Cuman dia gak bisa tinggalin Mala sendiri di ruangan itu. Kamu tahu sendiri, kan, Rakha gimana," jawab Devi berbohong.
"Iya, tapi aku merasa Rakha masih marah, Dev," ujar Afan.
"Siapa yang masih marah?" tanya seseorang yang baru saja tiba.
Senyum semua yang berada di ruangan itu pun seketika mengembang. "Rakha!"
Rakha mendorong kursi roda yang digunakan Mala, lalu mendekat ke brankar Afan. "Fan, gimana keadaan lo?" tanya Rakha, cemas.
Afan beraba-raba, mencari posisi yang nyaman untuk duduk. Rakha tercengang melihat itu. Apakah ia tidak dapat melihat lagi? pikir Rakha.
Rakha melirik teman-temannya yang ada di ruangan itu, meminta penjelasan. "Afan gak bisa lihat lagi, Kha. Dia yang sudah mendonorkan mata buat gue," ucap Devi.
Deg!
Grep!
Rakha segera memeluk sahabatnya itu. "Maafin gue, Fan. Maaf," ujarnya penuh penyesalan.
Afan menggelengkan kepalanya. "Lo gak salah. Gue yang harusnya minta maaf. Gara-gara gue, lo hampir saja kehilangan orang yang berharga dalam hidup lo."
"Nah, gini dong, baikkan. Kan jadi enak," ujar Eby dan Zayyan, ikut berpelukan.
"Ehmm, lupa sama istri nih," sindir cewek-cewek.
Mereka pun berpelukan berdelapan. "Semoga persahabatan kita selamanya ya, guys," ucap Mala.
"Iya, semoga selalu rukun," sambung Devi.
"Fan, lo tenang aja. Gue pasti bantu mama sama papa lo untuk cari donor mata buat lo," ujar Rakha.
"Iya, kita juga bakal bantu cari," sahut Eby dan Zayyan.
Post a Comment for "Di Jodohkan eps 48"