Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Di Jodohkan eps 59

 Di sebuah ruangan, kedatangan seorang gadis berseragam SMA, siapa lagi kalau bukan Mala. Banyak pasang mata menatapnya, mempertanyakan kehadirannya.  


"Maaf, Pak Rakha, adek ini menerobos masuk tanpa sepengetahuan saya," ujar wanita berpakaian kurang sopan itu.  


"Ayo, ikut saya keluar," ujarnya sambil menarik tangan Mala.  


"Gak mau, gue mau di sini aja," balas Mala, menarik lengannya dari pegangan wanita itu.  


Mala berlari kecil menuju Rakha.  


Grep!  


Semua melongo saat gadis itu memeluk bos mereka. Banyak pertanyaan muncul di benak karyawan yang berada di ruang meeting itu.  


Wanita itu kembali hendak menarik lengan Mala, namun dihentikan oleh Rakha. "Jangan sentuh dia lagi. Gara-gara Anda, tangan istri saya memerah," tegas Rakha.  


"Hah? Istri?" Semua terkejut dengan penuturan Rakha barusan.  


"Iya, dia istri sah saya. Kami menikah tiga tahun yang lalu, jadi saya harap kalian yang berada di ruangan ini hormati dia. Jangan semena-mena dengan dia," ujar Rakha.  


Mala tersenyum memandang wajah suaminya itu. "Beda banget mode-nya kalau lagi di rumah sama mode di kantor," batin Mala.  


"Mohon maaf, Buk. Saya tidak tahu kalau Anda istri Pak Rakha," ujar wanita itu.  


Mala membulatkan matanya mendengar pernyataan itu. Ia melepaskan pelukannya dari suaminya. "Bak buk bak buk, lo gak liat gue masih muda gini dipanggil ibu. Panggil aja gue MALA!" ucap Mala.  


Rakha terkekeh mendengarnya. Gemas sekali, ia ingin mencubit-cubit pipi chubby istrinya itu, kalau saja bukan di kantor.  


"Kalian dengarkan, panggil dia Mala saja," ujar Rakha.  


"Baik, Pak!" jawab mereka kompak.  


Rakha melanjutkan meeting yang sempat tertunda, sementara Mala hanya mendengarkan obrolan mereka tanpa tahu apa yang sedang dibahas, hingga buku-buku yang ada di mejanya menjadi kegabutan baginya.  


"Oke, meeting kita sampai di sini saja. Silakan kembali bekerja di ruangan masing-masing," ucap Rakha.  


"Kita permisi, Pak," ujar para karyawan itu.  


"Pak Rakha, saya tunggu kedatangan Anda di Bandung segera mungkin," ujar pria yang lebih tua dari Rakha.  


"Iya, sampaikan salam saya kepada bos Anda," jawab Rakha.  


"Baiklah, Pak. Sekali lagi saya permisi," ujar pria itu.  


Mala terdiam, mencerna obrolan terakhir suaminya dan pria itu. "Kamu kenapa, sayang?" tanya Rakha saat melihat istrinya diam.  


"Kenapa orang itu tadi bilang akan nunggu kamu di Bandung?" tanya Mala.  


"Kamu denger?"  


Mala menganggukkan kepalanya. "Iya lah, aku denger. Aku nggak tidur."  


Rakha terkekeh. "Kamu kenapa sih dari tadi marah-marah mulu? Hmm."  


"Siapa marah? Nggak ada aku marah-marah."  


"Tadi Sinta sampai takut loh sama kamu," ujar Rakha.  


Mala mengerutkan jidatnya. "Sinta? Siapa Sinta?" tanyanya.  


"Tadi yang kejar-kejar kamu pas masuk ke ruangan ini," jawab Rakha.  


"Oh, cewek yang bajunya kurang bahan itu namanya Sinta?" ucap Mala polos.  


Rakha kembali terkekeh. "Kamu ini ada-ada aja!"  


"Kenapa? Emang bener kan, tuh orang bajunya kurang bahan," ketus Mala.  


"Iya, iya, serah kamu aja deh, lagi males debat," ujar Rakha.  


Setelah itu, Devi, Vio, dan Haura berkumpul.  


"Lo serius, la?" tanya mereka berbarengan.  


"Iya, gue serius. Gue liat sendiri di kantor Rakha, banyak banget karyawan wanita pada pakai baju kurang bahan. Gue yakin pasti pada mau godain laki gue," ujar Mala.  


"Wah, nggak bisa, nggak bisa. Gue harus introgasi Afan sepulang ini," ujar Devi.  


"Pantes aja Zayyan betah banget lembur di kantor, pasti dia asik liatin cewek-cewek. Awas aja, kalo dia pulang, gue geprek-geprek!" ujar Haura geram.  


Mata mereka kini menatap Vio yang sedari tadi tak ikut angkat bicara. "Vio, lo nggak khawatir gitu sama suami lo?" tanya Devi.  


"Iya, lo malah santai makan aja," timpal Haura.  


"Diembat pelakor, baru tau rasa!" ucap Mala.  


"Yah, gue nggak khawatir, karena gue udah peringatin sama Eby. Kalo sampai ketahuan dia selingkuh, gue tinggal minta cerai. Aman kan?" ujar Vio santai.  


"HAH?" ketiganya kaget.  


"Santai dong, jangan gitu. Ntar orang-orang pada denger," ucap Vio.  


"Gimana mau santai coba? Emang lu mau jadi janda muda?" pekik ketiganya.  


Vio refleks menutup telinganya yang hampir meledak oleh teriakan ketiga mak lampir itu. "Udah kalian tenang aja, gue udah sedia payung sebelum hujan," ujar Vio dengan senyum smirk-nya.  


"Ini, neng, pesanan-nya," ujar bibi kantin.  


"Makasih, Bi," jawab mereka.  


Semuanya menikmati menu makanan dengan sangat lahap, kecuali Mala.  


"Mal, lo kenapa? Kok makanannya cuman diaduk-aduk doang?" tanya Haura.  


"Iya, biasanya lu paling suka makanan itu," sambung Vio.  


"Lo kepikiran soal Rakha yang akan ke Bandung, Mal?" tanya Devi.  


Mala menganggukkan kepalanya. Yah, tadi malam Rakha menceritakan bahwa ia akan pergi ke Bandung bersama Afan selama tiga hari karena ada pekerjaan yang harus segera mereka selesaikan.  


Mala ingin ikut ke Bandung, namun tidak diperbolehkan Rakha karena Mala masih harus menyelesaikan ujiannya. "Lo kok nggak sedih, Dar? Afan kan juga ke Bandung," tanya Mala.  


"Iya, lo bener. Tapi gue nggak ngizinin Afan ke Bandung karena gue nggak bisa jauh-jauh sama dia, dan papa ngizinin Afan nggak ikut ke Bandung!" ucap Devi dengan senyuman lebar.  


"Lo kok gitu sih? Nggak adil dong masa Rakha doang. Gue juga nggak mau kali ditinggal suami gue," ketus Mala.  


"Mungkin karena Devi lagi hamil," ujar Haura pelan, takut semua orang mendengar.  


"Tau ah, males gue." Setelah mengatakan itu, Mala pergi dari sana.  


"Lah, tu bocah pasti ngambek lagi," ujar Vio.  


Saat ini, Mala sudah pulang ke rumahnya. Ia membaringkan tubuhnya di sofa ruang tamu dan merasa sangat lelah akhir-akhir ini. Sedari tadi juga HP-nya terus berbunyi, namun tak ia hiraukan.  


Pukul 8 malam, Rakha pulang dari kantornya. Ia tak melihat istrinya di ruang tamu. Biasanya, wanita itu selalu menyambut kepulangannya dengan senyuman manis, namun kali ini tidak.  


"Mala, di mana ya?" gumam Rakha.  


Ceklek!  


Pintu kamar Mala dan Rakha terbuka. Sebuah senyuman terbit di belahan bibir Rakha ketika mendapati istrinya sedang bersantai membaca sebuah novel. Rakha sempat khawatir karena tak menemukan Mala di seluruh penjuru rumah, namun saat membuka kamar, gadis itu ada, membuat kecemasan di hati Rakha menghilang seketika.  


"Ehmm, lupa ya sama suami?" sindir Rakha sambil mendekat ke Mala.  


"Stop! Jangan deket-deket aku, kamu bau. Cepet mandi!" ucap Mala, membuat Rakha terkekeh.  


"Yaudah, aku mandi!"  


Setelah mandi, Rakha langsung turun ke bawah karena merasa lapar. Tidak lama kemudian, ia kembali ke kamar. "Sayang, kamu nggak masak?" tanya Rakha.  


"Enggak!"  


"Kenapa?"  


"Males."  


"Ya udah, kita cari makan di luar aja ya? Oke?" ujar Rakha.  


"Kamu aja, aku kenyang," jawab Mala.  


Rakha berjalan dan duduk di tepi ranjang. "Kamu kenapa? Hmm," tanyanya.  


"Gak papa!" ucap Mala sambil tetap fokus pada novel.  


Rakha mengambil novel Mala dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya. "Ck! Rakha, balikin!"  


"Enggak. Kamu bilang dulu, kamu kenapa?"  


Mala menghela napas panjang. "Kamu nggak boleh pergi ke Bandung," ucap Mala, membuat Rakha terdiam.  


"Kenapa? Bukannya sem


alam udah sepakat?" tanya Rakha.  


"Persepakatannya batal. Masa Devi doang yang bisa buat suaminya nggak jadi pergi? Aku juga bisa!" ketus Mala.  


Rakha sekarang paham apa yang dimaksud Mala. "Jadi kamu batalin kesepakatan itu gara-gara Afan nggak jadi ikut ke Bandung?" tanya Rakha.  


"Hmm!" Mala hanya diam.  


Rakha menarik Mala ke dalam pelukannya dan mengelus lembut rambut panjang istrinya. "Gini ya, sayang, Devi kan sahabat kamu. Pasti kamu lebih memahaminya. Devi hamil, dia nggak mau jauh-jauh dari Afan. Sebaliknya, Afan juga khawatir kalau ninggalin Devi dalam keadaan hamil gitu," jelas Rakha secara halus supaya istrinya dapat mengerti.  


"Tau ah, nggak temen-temen, nggak suami sendiri, pasti alesannya karena Devi hamil," ketus Mala, mendorong tubuh Rakha dan menarik selimut untuk menutup wajahnya.  


Rakha hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah istrinya itu. Setelah itu, ia pergi dari kamar entah ke mana.  


"Ck! Gak peka banget sih, istri ngambek bukan dibujuk malah pergi," gumam Mala.  

Post a Comment for "Di Jodohkan eps 59"